Senin, 02 Januari 2012

PENGAJARAN WACANA


PENDAHULUAN
Interaksi pembelajaran bahasa Indonesia menciptakan suatu tindak turur antara siswa dengan guru atau sebaliknya. Tindak tutur tersebut perlu dicermati agar tujuan dan ketercapaian pembelajaran dapat diukur atau dilaksanakan dengan baik. Interaksi yang baik ketika tindak tutur antara penutur dan petutur dapat saling memahami, namun pada kenyataannya interaksi tersebut masih didominasi oleh guru bahkan belum bisa dipahami dengan baik oleh mitra tuturnya. Guru lebih dominan yang berbicara dalam pembelajaran, sedangkan siswa jarang diberikesempatan untuk mengemukakan pendapatnya apalagi bisa berinteraksi dengan baik. Kondisi demikian akan berpengaruh terhadap tindak tutur yang mereka lakukan serta akan tercermin dalam kemampuan memahami bahasa lisan. Selaian itu, dalam setiap tindak tutur yang mereka lakukan sangat tergantung dengan situasi lisan saat itu serta yang tidak kalah pentingnya berdasarkan kompetensi dasar yang telah guru rancang dalam setiap pembelajaran.
Guru merupakan cermin bagi siswa dalam berbahasa. Baik buruknya suatu ujaran guru disadari atau tidak akan menjadikan pembelajaran bagi anak. Hal tersebut sangat terlihat ketika guru mengajukan pertanyaan kepada anak atau memerintah anak untuk melakukan sesuatu. Ujaran yang demikian akan menciptakan reaksi yang beragam bagi anak, seperti anak akan malas belajar, tidak berani bertanya, tidak mau melakukan perintah gurunya, bahkan setiap pembelajaran anak tidak mau masuk kelas. Atau sebaliknya anak akan lebih bergairah, semangat, aktif, kreatif, bahkan berprestasi. Hal tersebut merupakan salah satu reaksi dari tuturan yang dilakukan oleh guru apalagi dalam pembelajaran bahasa Indonesia.
Pembelajaran bahasa yang kurang menyenangkan bagi kalangan siswa saat ini salah satu permasalahannya, yaitu kemasan bahasa yang digunakan oleh guru dalam pembelajaran bahasa Indonesia kurang menarik. Misalnya kehalusan bahasa yang digunakan, kesantunan dalam bertutur sapa, sikap dan keramahtamahan guru, serta wawasan kebahasaan dan sastra guru dalam penerapannya masih belum terkuasai dengan baik. Padahal bahasa sebagai cermin bangsa. Kalau gurunya sebagai pemakai bahasa sekaligus pengembang dan pembina bahasa Indonesia kurang baik maka secara otomatis akan sulit menerapkan pemakaian bahasa Indonesia dengan baik pula.
Bahasa bukan saja merupakan property yang ada dalam diri manusia yang dikaji sepihak oleh para ahli bahasa, tetapi bahasa juga alat komunikasi antarpersona komunikasi selalu diiringi oleh interpretasi yang di dalamnya terkandung makna. Dari sudut pandang wacana, maka tidak pernah bersifat absolute; selalu ditentukan oleh berbagai konteks yang selalu mengacu kepada tanda-tanda yang yang terdapat dalam kehidupan manusia yang di dalamnya ada budaya. Karena itu, tidak pernah lepas dari konteks budaya dan keberadaaannya selalu dibayangi oleh budaya (Yasin, 2002). Oleh karena itu, analsis wacana merupakan upaya mengkaji rekaman kebahasaan secara utuh dalam peristiwa komunikasi sehingga mampu mengungkapkan kajian wacana tulis dan wacana lisan.
Brown dan Yule (1996: 1-4) membedakan wacana berdasarkan dua kriteria. Pertama adalah berdasarkan fungsi bahasa. Berdasarkan fungsi itu wacana dibedakan menjadi dua kategori, yakni wacana transaksional dan wacana interaksional. Wacana transaksional adalah wacana yang digunakan untuk mengekspresikan isi atau informasi yang ditujukan kepada pendengar, sedangkan wacana interaksional digunakan untuk menciptakan hubungan sosial dan hubungan personal, seperti wacana yang terdapat dalam dialog dan polilog. Dalam hal ini initeraksi dalam pembelajaran de kelas antara siswa dan guru, guru dengan siswa atau anatara siswa dengan siswa. Hal ini sesuai dengan namanya, wacana interaksional lebih menekankan fungsi bahasa sebagai alat interaksi.
Pada dasarnya analisis wacana ingin menganalisis atau menginterpretasikan pesan dimaksud pembicara atau penulis dengan cara merekonstruksi teks sebagai produk ujaran atau tulisan sehingga diketahui segala konteks yang mendukung wacana pada saat wacana itu dalam proses dihasilkan melingkupi pembicara atau penulis akan dihadirkan kembali (direkonstruksi) dan dijadikan alat untuk menginterpretasi. Hal tersebut dapat menggunakan prinsip lokalitas dan analogi.
Jika penganalisis melakukan analisis terhadap wacana lisan atau tulisan, analisis itu dapat dilakukan pada tingkat tataran, yaitu (1) tataran struktural gramatikal kalimat, (2) tataran makna, dan (3) tataran organisasi ujaran. Ketiga tataran ini menuntun penganalisis untuk bisa membedakan pola gramatikal, pola kalimat semantis, dan pola kalimat komunikatif. Praanggapan dan implikatur dalam wacana dialog seperti yang akan dibahas dalam tulisan ini bisa dikatakan sebagai konstruksi pada kalimat komunikatif, yang bisa diorientasikan pada istilah pragmatic function termasuk analisis fungsi pragmatik. Van Dijk (dalam Suparno, 1991: 19) manyatakan bahwa informasi pragmatis terdiri atas tiga komponen, yaitu (1) informasi lama yang berhubungan dengan dunia, yang juga informasi umum (general information), (2) informasi situasional (situational information), yaitu infomasi diturunkan dari pemahaman atau pengalaman partisipan dalam situasi tempat terjadinya interaksi, dan (3) informasi kontekstual (contextual information) yaitu informasi yang diturunkan dari ekspresi yang telah diarahkan peristiwa komunikasi.
Sebagai wacana lisan interaksional dalam pembelajaran di kelas dianalisis merupakan bahan yang menarik bagi penganalisis wacana. Hal ini terjadi karena di samping memuat hubungan antara pernyataan, juga dialog sangat kaya dengan unsur-unsur paralinguistik yang akan membantu pendengar atau penganalisis dalam menginterpretasi, memberi makna, dan menemukan hubungan antarpernyataan tersebut.
Analisis wacana menganalisis penggunaan bahasa dalam konteks pembicara atau penulis. Dengan demikian analisis wacana akan mendeskripsikan apa yang dimaksudkan oleh pembicara dan pendengar melalui wacana tersebut. Dalam kaitan dengan ini yang perlu diperhatikan adalah referensi (reference) dan infrensi (inference), praanggapan (presuppotion) dan implikatur (implicature), konteks situasi (the contex of situation) dan ko-teks (co-text), tematisasi dan penahapan, konstruksi tema-rema, pronomina serta interpretasi lokal (local interpretation).
Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah di atas, dalam kajian analisis wacana secara langsung ataupun tidak semua aspek tersebut akan mempengaruhi dan saling keterkaitan. Oleh karena itu, untuk melihat keterkaitan tindak tutur antara guru dengan siswa atau sebaliknya maka dalam kesempatan ini penulis hanya memfokuskan pada kajian praanggapan dan implikatur dalam pembelajaran bahasa Indonesia pada kompetensi pembelajaran sastra, baik puisi maupun prosa dalam bentuk transkripsi. Tuturan yang telah transkripsi itulah penulis menganalisis tuturan tersebut berdasarkan praanggapan dan implikatur guru dengan siswa atau sebaliknya dalam pembelajaran bahasa Indonesia.
Sesuai dengan pemikiran di atas, maka tulisan bertujuan untuk mendeskripsikan keterakitan antara praanggapan guru dengan implikatur siswa dan menemukan hubungan antara pernyataan-pernyataan guru dan siswa pada pembelajaran bahasa Indonesia khususnya pembelajaran prosa dan puisi. Kemudian dilanjutkan dengan menginterpretasi, merekontruksi, dan memberi makna pada wacana tersebut.
Analisis wacana adalah kajian tentang penggunaan oleh komunitas bahasa yang melibatkan baik kajian tentang bentuk maupun fungsi bahasa (Yasin, 2002). Analisis wacana berkaitan juga dengan masyarakat dan masalah komunikasi setiap hari yang bersifat interaktif atau dialogis (M. Stubbs, 1983; dalam Yasin, 2002). Selanjutnya ia membagi wacana secara garis besar yaitu ada wacana lisan dan ada wacana tulis. Wacara lisan berbentuk komunikasi verbal antarpersona, sedangkan wacana tulis menampilkan dalam bentuk teks. Wacana harus dibedakan dari teks. Wacana menekankan pada proses, sedangkan teks pada produk kebahasaan. Sebuah unit percakapan dapat dilihat dari teks apabila menganalisis melihat hubungan kebahasaan antartuturan. Sebaliknya, percakapan dilihat dari wacana apabila dikaji adalah proses komunikasi sehingga menghasilkan interpretasi. Adapun wacana lisan tersebut yang akan dibahas di sini adalah dalam bentuk dialog Liputan Enam Petang SCTV sebagai suatu ucapan, percakapan, dan kuliah yang berbentuk ujaran lisan dalam proses komunikasi.
Praanggapan adalah praanggapan pragmatis, yaitu yang ditentukan batas-batasnya berdasarkan anggapan berbicara mengenai apa yang kemungkinan akan diterima oleh pendengar tanpa tantangan (Givon, 1979; dalm Brown dan Yule, 1996: 28-29). Senada dengan itu praanggapan apa yang dikemukakan penutur sebagai dasar bersama bagi para peserta percakapan (Stalnaker, 1978; dalam Brown dan Yule, 1996: 29). Dalam hal ini praanggapan kedua belah pihak, baik itu dari guru ataupun siswa atau sebaliknya memiliki dasar pemahaman yang sama sehingga komunikasi dapat berlangsung sehingga diperlukan juga implikatur di dalam suatu percakapan/dialog penutur dengan petutur. Dalam artian bahwa praanggapan adalah sebagai suatu hal yang dianggap penutur sebagai dasar berpijak untuk menuturkan suatu kalimat dalam ujaran.
Hubungan antara pernyataan dalam analisis wacana menggunakan dua konsep dasar, yaitu kewajaran (apropresteness atau felicity) dan pengetahuan bersama (mutal knowledge atau commen ground atau join assumtion) (Lawrensen, 1983 dalam Lubis, 1991: 61). Oleh sebab itu, tuturan guru hendaklah dapat diketahui oleh siswa supaya siswa dapat memahami tuturan guru.
Istilah “implikatur” dipakai oleh Grice (1975) untuk menerangkan apa yang mungkin diartikan, disamakan atau dimaksudkan oleh penutur, yang berbeda apa yang sebenarnya dikatakan oleh penutur (Brown dan Yule, 1996: 31). Artinya implikatur adalah informasi implisit yang dapat ditentukan berdasarkan suatu tuturan. Dalam implikatur hanya sebagian arti literal yang turut mendukung artinya sebenarnya dari sebuah kalimat, selebihnya berasal dari fakta-fakta di sekeliling kita dalam hal ini analogi lokal sangat berperan penting, situasi, dan kondisinya.
Secara garis besar implikatur dikelompokan menjadi dua hal yaitu implikatur konvensional dan implikatur percakapan. Implikatur konvensional, diartikan oleh arti konvensional kata-kata yang dipakai. Sedangkan implikatur percakapan yang dituturkan dari asas umum percakapan ditambah sejumlah petuah yang biasanya dipatuhi oleh penutur. Asas umum ini disebut Asas Kerja Sama (cooperative principle) baik itu konteks kuanatitas (kerja sama dalam bentuk jawaban yang belum pasti), kualitas (kerja sama dalam bentuk sesuai), hubungan atau relasi (kerja sama dalam bentuk jawaban yang belum sesungguhnya, bergantung pada interpretasi penanya), maupun cara (kerja sama dalam bentuk yang tidak langsung menjawab pertanyaan karena kebiasaan) (Brown dan Yule, 1996: 30). Dalam banyak hal, implikatur itu harus tidak dinyatakan karena sudah menjadi pengetahuan umum.
Menurut Levenson (dalam Lubis, 1991: 70) ada empat macam faedah konsep implikatur itu, yaitu (1) dapat memberikan penjelasan makna atau fakta-fakta kebahasaan yang tak terjangkau oleh teori linguistik, (2) dapat memberikan penjelasan yang tegas tentang perbedaan lahiriah yang dari yang dimaksud si pamakai bahasa, (3) dapat memberikan pemerian sementik yang sederhana tentang hubungan klausa yang dihubungkan dengan kata penghubung yang sama, dan (4) dapat memberikan berbagai fakta yang secara lahiriah kelihatan tidak berkaitan, malah berlawanan (seperti metafora). Hal tersebut telah dibuktikan juga oleh H.P. Grice tahun 1967 yang menyatakan bahwa implikatur percakapan untuk menanggulangi persoalan makna bahasa yang tak dapat diselesaikan oleh teori semantik biasa. Jadi konsep implikatur ini dipakai untuk menerangkan perbedaan yang sering terdapat antara apa yang diucapkan dengan apa yang diimplikasikan (Nababan, 1989: 28).
METODOLOGI
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan content analysis dengan tidak mengabaikan konteks dalam dialog. Secara deskriptif penelitian ini dilakukan semata-mata berdasarkan pada fakta yang ada atau fenomena yang memang secara emperis dilakukan oleh penuturnya, sedangkan secara kualitatif dengan pendekatan content analysis bertujuan mengungkapkan isi dan pesan-pesan/maksud yang terkandung pada setiap ujaran berdasarkan hubungan kerja samanya pada setiap ujaran yangdikemukakan baik oleh guru maupun siswa. Hal tersebut untuk memberi makna pada pesan yang terkandung di dalamnya terutama praanggapan dan implikatur setiap ujaran dengan menggambarkan gejala tindak ujar yang terjadi (Mardalis, 1995:26 dan Muhadjir, 1996:49). Data dari tulisan ini adalah turan siswa dengan guru dari dua belas kegiatan pembelajaran pada saat pembelajaran bahasa Indonesia telah ditranskripsikan oleh Suryanti (2009), Maria (2000), dan Subekti (2006). Kemudian data dianalisis dengan teknik meyeleksi tindak tutur guru dengan siswa tersebut untuk layak dianalisis berdasarkan transkipsi rekaman yang sudah ada, menginventarisasikan dan mengklasifikasikan, menabuliasikan, dan merumuskan kesimpulan (Irawan, 1999:85).
PEMBAHASAN
Tindak tutur pembelajaran dianalisis berdasarkan kompetensi dasar yang telah ditranskripsikan, baik pada pada jenjang SD, SMP, ataupun SMA. Adapun kompetensi yang dikaji, yaitu mendengarkan puisi dan cerita rakyat, menulis berbagai karya sastra, mendiskusikan masalah, membaca puisi, memahami pantun, menentukan kalimat utama, membaca puisi, menemukan pokok isi bacaan, menggunakan huruf kapital, membandingkan isi teks, menggunakan kata ulang, dan membaca cerita rakyat. Berdasarkan kompetensi dasar inilah akan dianalisis tidak tutur yang guru dan siswa lakuakan karena suatu tindak tutur yang dihasilkan sangat tergantung kepada kompetensi atau tujuan pembelajaran.
Untuk memudahkan dalam penganalisisan baik itu menginterpretasikan, memberikan makna, melihat keterkaitan antar ujaran praanggapan dan implikatur dalam dialog yang dikemukakan guru dengan siswa, penulis membagi ke dalam tiga bagian besar kelompok isi wacana lisan antara lain bagian pembuka, isi, dan penutup. Pembagian ini sesuai dengan kegiatan pembelajaran di kelas.
1. Pembuka
Membuka pelajaran adalah kegiatan yang dilakukan oleh guru untuk menciptakan suasana siap mental dan menimbulkan perhatian siswa agar terpusat pada hal-hal yang akan dipelajari (Saadie, 2007:3.46). Kegiatan membuka pelajaran tersebut tidak hanya dilakukan pada awal jam pelajaran, melainkan juga pada awal setiap penggal kegiatan dari inti kegiatan yang diberikan selama jam pelajaran itu berlangsung. Untuk menciptakan suasana siap mental siswa terhadap hal-hal yang dipelajari, guru dapat melakukan usaha-usaha, seperti memberikan acuan dan apersepsi (membuat kaitan antara pelajaran yang telah diberikan dengan bahan baru yang akan dipelajari).
Apabila guru sudah melaksanakan membuka pelajaran dengan baik, siswa akan siap secara mental karena guru telah memberikan atau menjelaskan tujuan pembelajaran, masalah-masalah pokok yang harus diperhatikan, langkah-langkah kegiatan belajar yang akan dilakukan, dan batas-batas tugas yang harus dikerjakan untuk mengusasi pelajaran tersebut. Selian itu, untuk menumbukan perhatian dan motivasi siswa terhadap hal-hal yang dipelajari, guru dapat melakukan usaha-usaha, seperti menimbulkan rasa ingin tahu, menunjukkan sikap hangat dan antusias, memberikan variasi mengajar (termasuk di dalamnya variasi gaya mengajar, gerak dan mimik, variasi media dan alat pembelajaran, serta variasi pola interaksi). Siswa yang telah termotivasi dan penuh perhatian, akan melaksanakan tugas dengan penuh gairah, semangat yang tinggi, serta cepat bereaksi terhadap pertanyaan-pertanyaan guru.
Adapun komponen-komponen membuka pelajaran yang harus dikuasai guru, yaitu menarik perhatian siswa, menimbulkan motivasi, memberikan acuan, dan membuat kaitan (Saadie, 2007:3.49 s.d. 3.53). Menarik perhatian siswa dapat dilakukan dengan gaya mengajar, seperti gerak atau posisi guru, kontak pandang atau suara guru, dan penggunaan pause atau kementar yang jelas; penggunaan berbagai media, seperti gambar disertai model atau benda yang sebenarnya; perubahan pola interaksi guru, seperti guru bertanya siswa menjawab atau sebaliknya atau siswa diskusi dalam kelompok kecil. Menimbulkan motivasi dapat dilakukan dengan kehangatan dan penerimaan guru, seperti semangat, antusias, dan bersahabat; menimbulkan rasa ingin tahu, seperti bercerita dalam bentuk teka-teki; mengemukakan konsep bertentangan, seperti mengemukakan suatu masalah; memperhatikan minat siswa, seperti menyesuaikan pokok pelajaran dengan tingkat perkembangan;karakteristik anak. Memberikan acuan dapat dilakukan dengan komentar pada awal pelajaran, seperti menghubungkan sedikit materi yang lalu; menentapkan tujuan untuk tugas tertentu, seperti memberikan gambaran ruang lingkup materi; menyarankan langkah-langkah yang akan dilakukan, seperti penjelasan cara kerja sebelum praktik; mengajukan pertanyaan, seperti mennanyakan seusatu apa yang dilihat atau diamati. Membuat kaitan dapat dilakukan dengan menghubungkan aspek yang relevan, seperti meninjau kembali; membandingkan pengetahuan baru dengan yang sudah; menyajikan konsep.
Berbagai variasi guru dalam memulai pembelajaran. Hal tersebut kadang kala disesuaikan dengan aturan yang berlaku di sekolah, seperti pada pembuka pelajaran berikut ini. Saat guru measuki kelas, semua siswa sudah dalam keadaan berdiri untuk menghormati dan memberi salam kepada guru atas instruksi dari ketua kelas. Kemudian guru memriksa masing-masing siswa mengenai kerapian dan kebersihan pakaian dan kelas. Setelah guru sudah memeriksa satu persatu, guru akhirnya berpraanggapan dengan tuturan G: Ketua kelas siapkan! Tanpa menjawab ya atau tidak atau baik, Bu, ketua kelas langsung mengomandoi teman-teman dengan implikaturnya S: Beri salam kepada Ibu guru. Itu mengimplikasikan bahwa kondisi kelas sudah baik dan siap untuk menerima materi pembelajaran oleh guru sehingga siswa yang lain mengucapkan salam dan guru pun menjawab salam. Kondisi ini mengimplikasikan bahwa dalam tuturan antara siswa dan guru dalam prinsip kerja sama mengacu pada maksim relevansi.
Maksim relevansi mengharuskan setiap peserta percakapan memberikan kontribusi yang relevan dengan masalah pembicaraan. Seperti yang dilakukan oleh guru dan siswa tersebut. Hal itu juga terlihat pada tuturan berikut. G: Ketua kelas sepidolnya mana? Saat itu guru mengecek kesiapan siswa sebelum memulai pelajaran, tetapi sudah mencari-cari sepidol di laci meja dan di tempat kotak sepidol, guru tidak menemukan sepidol sehingga guru bertanya kepada ketua kelas. Ketua kelas menjawab S: Bu Meri belum datang Bu. Sebelum pembelajaran di mulai sebenarnya ketua kelas sudah menyiapkan semua perlengkapan kelas, tetapi sepidol masih belum bisa didapatkan karena ruang TU masih tutup atau dalam artian staf/Bu Meri sampai pembelajaran dimulai belum juga datang. Implikatur siswa walaupun sepidolnya diambil maka akan percuma atau tidak bisa didapatkan. Guru pun memahami hal itu sehingga guru mengeluarkan sepidol yang ada di dalam tasnya.
Saat guru membuka pelajaran yang tidak kalah pentingnya, yaitu memberikan acuan dan apersepsi (membuat kaitan antara pelajaran yang telah diberikan dengan bahan baru yang akan dipelajari). Dalam konteks ini sebenarnya prinsip kerja sama pada maksim relevansi jarang terjadi, tetapi hal tersebut masih ada tuturan siswa yang implikaturnya mengacu pada maksim relevansi, seperti pada tuturan guru dengan siswa berikut. G: Pada pelajaran yang lalu kita telah belajar tentang pantun. Anak-anak sebagian ada yang sudah bisa membuat pantun? Sebelum kita belajar anak-anak ini ada pantun. Coba Adi bacakan di depan kelas! Guru menyuruh Adi membacakan di depan kelas karena praanggapan guru bahwa Adi sangat mahir dalam membaca pantun sehingga guru menyuruh Adi untuk memberikan model/contoh yang baik bagi teman-temannya. S: Saya masih batuk, Bu. Implikatur Adi sebenarnya ingin membacakan pantun itu, tetapi karena batuk sehingga suaranya agak terganggu. Membaca pantun bagi Adi memerlukan suara yang baik agar enak didengar oleh teman-teman dan gurunya. Guru sangat memahami implikaturnya Adi. Apalagi ketika Adi menjawab pertannyaan darinya suara Adi memang agak serak.
Prinsip kerja sama dalam praanggapan dan implikatur guru dan siswa lebih dominan terjadi pada maksim kualitas. Maksim kualitas mewajibkan setiap peserta percakapan mengatakan hal yang sebenarnya dengan bukti-bukti yang memadai. Hal ini terjadai pada tuturan saat guru dan siswa melakukan apersepsi dalam pembelajarannya, seperti pada tuturan berikut ini.
G: Kalau kata teman Anda, narasi itu cerita. Cerita yang bagaimana?
S: Cerita yang memiliki tema, alur, tokoh, amanat, setting.
G: Cerita ada setting, ada tokoh, ada amanat, ada apa lagi?
Ditambah lagi apa?
S: Alur
G: Alur itu menceritakan berdasarkan apa?
S: Berdasarkan urutan waktu.
Guru mengajukan pertannyaan berturut-turut kepada siswanya itu praanggapan guru bahwa guru ingin menggali informasi pemahaman siswa terhadap materi yang sudah dipelajari agar dapat menghubungkan materi yang akan dipelajari. Implikasinya bahwa siswa sangat memahami pelajaran yang telah dipelajari sehingga siswa menjawab pertanyaan guru dengan pemahaman yang sebenarnya. Setelah mengajukan pertanyaan, guru memngajak siswa untuk melanjutkan materi pelajaran yang masih ada hubungan dengan pelajaran sebelumnya, yaitu membaca wacana eksposisi.
Guru dapat juga melakukan suatu tuturan yang dapat menarik perhatian siswa. Tuturan ini lebih mengacu kepada prinsip kerja sama maksim cara. Maksim cara di sini dimaksudkan guru menuturkan praanggapan berikut dikarenakan suatu kebiasaan. Kebiasaan ini merupakan retoris dalam berbahasa. Hal tersebut mengmpliasikan bahwa keinginan guru agar siswa tidak lagi ribut. Walaupun jawaban siswa sebenarnya hanya sekadar penguatan semata karena tanpa ditanyapun sebenarnya guru sudah tahu jawaban dari siswa tersebut, seperti pada tuturan berikut ini.
G: Mau belajar enggak?
S: Mau..(menjawab serentak)
G: Kalau mau belajar, jangan ribut. Bagaimana mau belajar kalau ribut terus itu…(membuka buku paket dan mencari materi pelajaran yang akan diajarkan)
2. Isi
Pelaksanaan kegiatan inti merupakan proses pembelajaran untuk mencapai KD yang dilakukan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Kegiatan inti menggunakan metode yang disesuaikan dengan karakteristik peserta didik dan mata pelajaran, yang dapat meliputi proses eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi.
Dalam kegiatan eksplorasi, guru melibatkan peserta didik mencari informasi yang luas dan dalam tentang topik/tema materi yang akan dipelajari dengan menerapkan prinsip alam takambang jadi guru dan belajar dari aneka sumber; guru menggunakan beragam pendekatan pembelajaran, media pembelajaran dan sumber belajar lain; guru memfasilitasi terjadinya interaksi antar peserta didik serta antara peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya; guru melibatkan peserta didik secara aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran; dan guru memfasilitasi peserta didik melakukan percobaan di laboratorium, studio, atau lapangan.
Guru melibatkan peserta didik mencari informasi yang luas dan dalam tentang topik/tema materi yang akan atau sedang dipelajari dengan menerapkan prinsip alam takambang jadi guru dan belajar dari aneka sumber. Hal itu terlihat ketika guru menanyakan tentang gravitasi bumi yang berhubungan dengan teks bacaan. Tindak tutur ini lebih menerapkan prinsip kerja sama maksim kualitas. Kesesuaian jawaban tersebut terlihat ketika siswa menjawab dan guru membenarkan dari jawabannya dalam bentuk pengulangan di dalam pertanyaannya, seperti pada penggalan tuturan berikut ini
G: Ya, ada yang pernah baca gravitasi bumi? Ada yang tahu? Apa itu gravitasi bumi, Alita?
S: Gaya tarik.
G: Siapa bisa mencontohkan terjadinya gaya tarik bumi. Eko coba contohkan!
S: Suatu benda jatuh.
Guru menggunakan beragam pendekatan pembelajaran, media pembelajaran dan sumber belajar lain. ; ………..
Guru memfasilitasi terjadinya interaksi antar peserta didik serta antara peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya. Selain itu guru juga melibatkan peserta didik secara aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran, seperti pada tuturan berikut.
G: Kalau puisi karangan terikat, kalau prosa karangan bebas. Terikat bagaiman bingung ibu?
S: Maksudnya kalau puisi itu ada aturan-aturannya misalnya bait.
G: Ada baitnya.
S: Terus maknanya ada tersirat.
G: Kata-katanya bermakna konotasi, kalau prosa maknanya denotasi.
Berdasarkan tuturan di atas dapat diimplikasikan bahwa guru dengan aktifnya berusaha melibatkan siswa supaya terjadi interaksi secara aktif. Hal itu terlihat ketika praanggapan guru seolah-olah bingung yang menginginkan pembenaran dan jawaban dari siswa agar yang diinginkan guru dalam pemahaman siswa menjadi benar adanya. Interaksi tuturan tersebut menggunakan prinsip kerjasama kamsim kualitas. Kesesaian jawaban menjadikan tuturan demi tuturan berjalan dengan baik.
Dalam kegiatan elaborasi, guru membiasakan peserta didik membaca dan menulis yang beragam melalui tugas-tugas tertentu yang bermakna; guru memfasilitasi peserta didik melalui pemberian tugas, diskusi, dan lain-lain untuk memunculkan gagasan baru baik secara lisan maupun tertulis; guru memberi kesempatan untuk berpikir, menganalisis, menyelesaikan masalah, dan bertindak tanpa rasa takut; guru memfasilitasi peserta didik dalam pembelajaran kooperatif can kolaboratif; guru memfasilitasi peserta didik berkompetisi secara sehat untuk meningkatkan prestasi belajar; guru memfasilitasi peserta didik membuat laporan eksplorasi yang dilakukan balk lisan maupun tertulis, secara individual maupun kelompok; guru memfasilitasi peserta didik untuk menyajikan r iasi; kerja individual maupun kelompok; guru memfasilitasi peserta didik melakukan pameran, turnamen, festival, serta produk yang dihasilkan; guru memfasilitasi peserta didik melakukan kegiatan yang menumbuhkan kebanggaan dan rasa percaya diri peserta didik.
Guru membiasakan peserta didik membaca dan menulis yang beragam melalui tugas-tugas tertentu yang bermakna, seperti pada tuturan dialog berikut. Walaupun teks bacaan sudah dibacakan oleh siswa yang lain, guru masih mencoba membiasakan agar siswa yang lain dapat membacanya kembali. Secara lisan, guru menginginkan apa yang dibaca bisa dipahami dengan baik dan membacanya juga dengan suar yang nyaring. Hal itu tidak saja paham secara individu, tapi paham juga bagi teman yang lain selain melatih artikulasi anak dalam membaca nyaring.
G: Tadi kaliansudah membaca semua, tapi ada yang belum mendengar karena suaranya kurang keras atau kurang lantang. Sekarang kita ulangi sekali lagi. Bapak mulai dari kelompok empat silahkan!
S: (siswa membaca bergantian hingga selesai)
G: Jadi, dari bacaan itu tentu kamu dapat mengetahui apa tujuan daripada kisah si Badi tadi. Tentu setelah kamu baca berulang-ulang kamu dapat memahami hal-hal tersirat dalam hati kita tentang si Bandi tadi. Mengapa si Bandi tadi menurut kamu? (memandang seluruh siswa) Apa anak pintar, apa anak durhaka?
S: Anak durhaka (menjawab serentak)
Tuturan di atas berdasarkan prinsip kerja sama menggunakan maksim kualitas. Artinya adanya kesesuaian apa yang diinginkan dengan penutur dengan petutur. Keseuaian tersebut terlihat dari jawaban siswa secara serentak. Selain itu, apa yang diinginkan oleh penutur dapat dipahami dengan baik oleh siswa. Hal itu juga terlihat bahwa guru memfasilitasi peserta didik melalui pemberian tugas dan diskusi dalam kelompok untuk memunculkan gagasan baru baik secara lisan maupun tertulis.
Guru memberi kesempatan untuk berpikir, menganalisis, menyelesaikan masalah, dan bertindak tanpa rasa takut. Di sini siswa memberikan pemecahan suatu masalah dalam pendapatnya. Guru menyiasati siswanya agar rasa takut itu dapat diatasi oleh mereka maka guru membentuk diskusi dalam bentuk debat sehingga apa yang dikemukakan oleh siswa dapat membangun suatu opini yang alami dari teman-temannya. Dalam kelompok itu siswa bekerja sama dalam membahas dan menyelesaikan suatu permasalahan sehingga apa yang diputuskan/dihasilkan menjadi suatu kesepakatan bersama. Itu artinya bahwa guru juga memfasilitasi siswa dalam pembelajaran kooperatif dan kolaboratif. Jika dilihat berdasarkan dialog berikut, tuturan berikut ini lebih mengacuk pada prinsip kerja sama dengan maksim kualitas karena jawaban dari siswa dalam memecahkan suatu masalah sudah didukung dengan bukti-bukti yang kuat.
G: Ya, kita anggap di sini adalah sebuah kerajaan. Di sini ada anak dalangnya. Silahkan! Silahkan, Nak! Mau pro pada Mohammad Yofanza atau pro kepada kepala suku.
S: Kalau masalah kebersihan tidak mungkin bisa menimbulkan penyakit. Lain seperti malaria, demam berdarah, penderita TBC. Kalau penyakit flu burung itukan berasal dari hewan. Hewan itukan bernafas dengan mengeluarkan virus. Virus yang mereka keluarkan kepada orang lain sehingga orang tersebut terkena virus tersebut. Jadinya saya tidak setuju dengan pendapat Mohammad Yofanza yang mengatakan baahwa virus flu burung itu berasal dari kebersihan karena virus flu burung itu menyebar melalui udara, Bu.
Guru memfasilitasi peserta didik berkompetisi secara sehat untuk meningkatkan prestasi belajar. Bekompetensi secara sehat di sini bahwa guru memberi kesempatan kepada siswa untuk menampilkan kemampuannya baik secara lisan maupun tulis. Secara lisan misalnya siswa tampil di depan kelas untuk membacakan puisi. Siswa yang lain diberi kesempatan untuk memberikan penilaian pada teman yang tampil. Sebaliknya yang menilai tadi akan tampil juga untuk dinilai. Selian itu, dapat dikatakan bahwa guru telah memfasilitasi peserta didik membuat laporan eksplorasi yang dilakukan baik lisan maupun tertulis, secara individual maupun kelompok; guru memfasilitasi peserta didik untuk menyajikan kreasi; kerja individual maupun kelompok. Itu artinya, penialaian dari mereka untuk mereka akan memberikan perbaikan pembelajaran yang baik sehingga siswa bekompetensi dengan temannya sendiri secara sehat dan wajar, seperti pada tuturan berikut ini.
G: Diana, Erin mana?
S: Saya Bu.
G: Ya, Erin.
S: (siswa membacakan puisi di depan kelas)
S: (menyimak dengan saksama)
S: (selesai membacakan puisinya)
S: (bertepuk tangan)
S: Terlalu monoton.
G: Suaranya keras lagi, Van.
S: Terlalu monoton, Mimik wajahnya seperti itu-itu terus, Nilainya
7,5.
Tuturan di atas implikaturnya bahwa yang diinginkan oleh guru dari siswanya dapat memberikan suatu penampilan puisi yang baik. Tuturan yang dikemukakan oleh guru dalam menanyakan siswanya menunjukkan bahwa gurunya ingin informasi yang jelas dan mendukung shingga apa yang diharapkan memang demikian adanya. Beigitu juga pada komentar terhadap penempilan siswa lainnya dalam membacakan puisi. Jawaban siswa tersebut sangat diharapkan oleh gurunya dapat memberikan data yang kuat terhadap penampilan temannya. Berdasarkan prinsip kerja sama tuturan itu menggunakan maksim kuantitas.
Guru memfasilitasi peserta didik melakukan pameran, turnamen, festival, serta produk yang dihasilkan. Produk yang dihasilkan di sini maksudnya adalah puisi yang telah dibuat oleh siswa kemudian diberikan kesempatan untuk membacakannya di depan kelas. Hal tersebut dapat kita lihat dalam dialog berikut.
G: Sekarang kita lihat dulu Vina. Nuri kamu beri penilaian untuk Vina (Vina selesai membaca puisi di depan kelas. Guru dan seluruh siswa bertepuk tangan)
G: Nuri berikan komentar.
S: Ehm…Vina masih terpaku pada teks. Matanya masih terfokus pada teks.
G: Jadi kontak dengan penonton kurang? Ya, terus.
S: Cara membacanya terlalu cepat. Jedahnya, Bu.
Kesesuaian tuturan dari dialog di atas dapat dilihat ketika praanggapan dari impilkatur siswa diulang kembali oleh guru. Kata ya, terus membuktikan bahwa jawaban yang telah dikemukakan sebelumnya memang demikian adanya. Berdasarkan prinsip kerja sama tuturan di atas mengacu pada maksim kualitas. Alasan lain selain itu adalah bahasa yang digunakan oleh guru secara lugas sehingga dapat dipahami dengan baik oleh siswa.
Guru memfasilitasi peserta didik melakukan kegiatan yang menumbuhkan kebanggaan dan rasa percaya diri peserta didik. Tuturan yang bisa dilakukan guru dalam menumbuhkan rasa percaya diri siswa seperti pada turan berikut ini.
G: Ya, bagus. Siapa lagi yang mau mencoba? Jangan takut, siapa yang mau mencoba majulah ke depan ini. Pelangi kan bisa. Kalau Pelangi bisa, kalian harus bisa.
S: (Siswa yang lain maju)
G: Ya, bagus Rani. Tepuk tangan. Siapa lagi?
Tuturan yang dikemukakan guru sangat bijaksana dalam menumbuhkan rasa percaya diri anak “Kalau Pelangi bisa, kalian harus bisa”. Itu artinya siswa akan lebih tertantang untuk mencoba dan percaya diri pun lebih kuat untuk mencoba. Praanggapan guru dengan kata-kata demikian akan memberikan peluang besar bagi siswa yang lain untuk mencoba. Begitu juga sebaliknya, siswa dalam implikaturnya akan merasa lebih mudah dalam mengerjakan latihan tersebut. Ini terbukti setelah siswa mengerjakan tugasnya baru ada pembenaran dsari guru terhadap apa yang telah dikerjakannya. Hal tersebut sesuai dengan prinsip kerja sama pada maksim kualitas.
Dalam kegiatan konfirmasi, guru memberikan umpan balik positif dan penguatan dalam bentuk lisan, tulisan, isyarat, maupun hadiah terhadap keberhasilan peserta didik, guru memberikan konfirmasi terhadap hasil eksplorasi dan elaborasi peserta didik melalui berbagai sumber, guru memfasilitasi peserta didik melakukan refleksi untuk memperoleh pengalaman belajar yang telah dilakukan, guru memfasilitasi peserta didik untuk memperoleh pengalaman yang bermakna dalam mencapai kompetensi dasar: berfungsi sebagai narasumber dan fasilitator dalam menjawab pertanyaan peserta didik yang menghadapi kesulitan, dengan menggunakan bahasa yang baku dan benar; membantu menyelesaikan masalah; memberi acuan agar peserta didik dapat melakukan pengecekan hasil eksplorasi; memberi informasi untuk bereksplorasi lebih jauh; memberikan motivasi kepada peserta didik yang kurang atau belum berpartisipasi aktif.
Guru memberikan umpan balik positif dan penguatan dalam bentuk lisan, tulisan, isyarat, maupun hadiah terhadap keberhasilan peserta didik, seperti pada tuturan berikut. Guru memberikan penguatan secara verbal maupun nonverbal. Hal itu bukan saja dilakukan oleh guru, melainkan siswa yang lain ikut berpartisipasi aktif terhadap keberhasilan teman-temannya.
G: Ya, bagus! Tepuk tangan!
S: (bertepuk tangan)
G: Sekarang siapa lagi yang berani. Coba yang laki-laki. Ayo siapa bisa! Megi bisa?
S: (Megi maju ke depan membacakan pantun)
G: Ya, bagus. Tepuk tangan lagi!
S: (bertepuk tangan)
Penguatan tersebut berdasarkan prinsip kerja sama termasuk maksim kualitas. Walaupun tidak dijawab secara langsung atau lisan melainkan sebgian ada dalam bentuk tepukan dan sebagian lagi dalam bentuk ujaran, penguatan tersebut sudah ada kerja sama dengan baik dalam kesamaan pemahaman antara siswa dengan guru atau antara siswa dengan siswa.
Guru memberikan konfirmasi terhadap hasil eksplorasi dan elaborasi peserta didik melalui berbagai sumber. Eksplorasi tersebut berupa kalimat yang digunakan guru lebih kontektual atau ada di lingkungan siswa sendiri. Seperti pada tuturan berikut bahwa guru memberikan konfirmasi kepada siswa terhadap jawaban yang telah mereka kemukakan sendiri. Jawaban dari tuturan siswa memberikan kontribusi yang cukup yang dibutuhkan guru. Kata Satu antaranya ingat! Utuh yang dituturkan oleh guru membuktikan bahwa informasi yang dibutuhkannya sudah cukup sehingga guru melanjutkan ke pertanyaan berikutnya.Hal tersebut terlihat bahawa guru menggali informasi terhadap pertanyaan yang dikemukakan. Berdasarkan prinsip kerja sama tuturan berikut mengacu pada maksim kuantitas.
G: Sekarang coba coba perhatikan. Di ruang kelasku, banyak
terdapat jendela-jendela yang terbuka. Jendela-jendela itu kata
apa itu?
S: Kata ulang (serentak)
G: Kata ulang, kata ulang itu ada berapa macam?
S: Ada empat.
G: Empat? Yakin empat? Empat atau lima?
S: Empat (serempak).
G: Siapa yang lima? Empat atau tiga?
S: Empat (serempak).
G: Empat atau lima?
S: empat (serempak)
G: Kita buktikan sekarang. Sekarang tidak usah saling curiga,
saling suara nanti kalian bingung. Kalau utuh bagaimana?
S: Tidak berubah (serempak).
G: Kalau jendela-jendela di kelasku banyak terbuka. Itu jenis kata
ulang apa?
S: Utuh (serempak).
G: Sekarang yang kedua. Satu antaranya ingat! Utuh. Yang kedua
tidak ada yang menulis. Kalau mobil-mobilan?
S: Berimbuhan (serempak)
Guru memfasilitasi peserta didik melakukan refleksi untuk memperoleh pengalaman belajar yang telah dilakukan. Refleksi di sini diberikan oleh guru dalam mendukung dalam memperkuat argumen siswa. Argumen siswa tersebut dapat meyakinkan guru bahwa yang terjadi memang benar adanya, seperti pada tuturan berikut.
G: Oh…begitu.
S: Melalui foto mesra itu akan nampak biar orang tahukan. Wah… ini pasangan yang setia, mesra, dan serasi.
S: Huuuu…(sebagian siswa bertepuk tangan)
G: O..ya bagus sekali. Silahkan dari kubu yang tidak setuju.
S: Ha…ha..ha…(tertawa serempak)
G: Ayo lagi yang mana Ki lawan Ki!
S: Saya perwakilan dari kubu yang tidak setuju karena kan rata-rata yang undangan yang ada foto mesra itukan, rata-rata kelas elite kan Bu. Jadi, nampak nanti kesenjangan sosial kalau undangan yang bagus ada foto-foto berartikan itu orang-orang kaya, sedangkan yang sederhana itu kurang mampu.
Tuturan guru dengan siswa di atas memperlihatkan hubungan kerja sama dengan menggunakan maksim kualitas. Maksim ini memberikan praanggapan dan implikatur adanya kesesuaian antara pertanyaan dengan jawaban. Di sini guru menginginkan siswa menjawab dengan baik dan siswapun menjawabnya sesuai apa yang diinginkan berdasarkan pertanyaan yang diajukan oleh guru. Hak tersebut membuktikan bahwa guru dapat memfasilitasi peserta didik untuk memperoleh pengalaman yang bermakna dalam mencapai kompetensi dasar. Selain itu, guru juga berfungsi sebagai narasumber dan fasilitator dalam menjawab pertanyaan peserta didik yang menghadapi kesulitan, dengan menggunakan bahasa yang baku dan benar; membantu menyelesaikan masalah; memberi acuan agar peserta didik dapat melakukan pengecekan hasil eksplorasi; memberi informasi untuk bereksplorasi lebih jauh; memberikan motivasi kepada peserta didik yang kurang atau belum berpartisipasi aktif.
3. Penutup
Kegiatan menutup pelajaran adalah kegiatan yang dilakukan guru untuk mengakhiri kegiatan inti pembelajaran (Saadie, 2007:3.47). Kegiatan menutup pelajaran dimaksudkan untuk memberikan gambaran menyeluruh tentang apa yang telah dipelajari siswa, serta mengetahui tingkat pencapaian siswa dan tingkat keberhasilan guru dalam proses pembelajaran. Usaha-usaha yang dapat dilakukan guru, antara lain merangkum kembali atau meminta siswa membuat ringkasan dan mengadakan evaluasi tentang materi pelajaran yang baru saja dibahas. Kegiatan menutup pelajaran ini juga dilakukan guru tidak saja pada akhir pelajaran, tetapi juga pada akhir setiap penggal kegiatan dari inti pembelajaran yang diberikan selama jam pelajaran itu.
Tuturan kegiatan menutup pelajaran dalam prinsip kerjasama lebih dominan mengacu pada maksim kualitas. Maksim kualitas ini mengimplikasikan bahwa siswa dan guru sudah sangat saling memahami apa yang telah dipelajari sehingga tuturan yang dihasilkan sesuai dengan keadaan sebenarnya, seperti pada tuturan beikut ini.
G: Ada lagi Nak selain tempo?
S: Ekspresi, Bu.
G: Ya, membaca puisi tidak bisa dikatakan berhasil jika kalian tidak bisa mempengaruhi orang yang mendengar. Jangan ragu-ragu menampakkan mimik muka kalian. Kalau sedih, tunjukkan sedih. Kalau gembira, tunjukkan gembira. Kalau meremehkan, tunjukkan dengan meremehkan. Seperti tadi kata Ade, Bu puisi ini saya ciptakan sebagai kritik terhadap wanita. Jadi selamat berkarya dan sampai jumpa.
Tuturan dalam bentuk pertanyaan mengimplikasikan bahwa guru menginginkan penguatan dari siswa bahwa siswa telah memahami terhadap materi yang telah dipelajari. Selain itu, guru berpraanggapan hal itu perlu dikuatkan lagi dalam bentuk simpulan. Namun, berdasarkan tuturan yang ditemui dari sembilan kegiatan pembelajaran, guru jarang menyimpulkan dan mengevaluasi kegiatan pembelajaran. Kegiatan yang dilakukan lebih kepada penugasan. Kegiatan menutup ini lebih pada inti dari menutup pelajaran, seperti pada tuturan berikut.
G: Anak-anak waktu sudah habis.
S: Sudah (sebagian)
S: Belum, Bu (sebagian)
G: Ya, yang belum selesai lanjutkan di rumah sekarang kumpulkan
tugas puisi yang kemarin.
G: Siapkan ketua!
Berdasarkan prinsip kerja sama pada maksim kualitas memang guru dan siswa sudah melakukan tuturan dengan sebenarnya, tetapi guru masih belum memahami dalam kegiatan pembelajaran. Implikaturnya bahwa guru masih kurang mampu mengajak siswa untuk menerapkan kegiatan pembelajaran menutup yang baik. Menutup tidak sekadar tutup dan salam saja. Padahal, menutup pelajaran dilakukan untuk memperoleh gambaran yang utuh tentang pokok-pokok materi yang dipelajari dengan cara meninjau kembali dan mengevaluasi (Saadie, 2007:3.53 s.d. 3.54). Meninjau kembali dapat dilakukan dengan cara merangkum inti pelajaran dan membuat ringkasan, sedangkan mengevaluasi dapat dilakukan dengan cara mendemonstrasikan keterampilan, mengaplikasikan ide baru, mengekspresikan ide guru, mengekspresikan ide baru, mengekspresikan pendapat, dan memberikan soal.
PENUTUP
Berdasarkan pembahasan dan analisis di atas dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa tidak semua peranggapan guru dan implikatur siswa memiliki kesesuaian atau dalam arti hanya pada maksim kualitas, melainkan ada juga maksim yang lain yaitu maksim kuantitas, maksim hubungan, dan maksim cara. Ada beberapa gejala konsep pemahaman yang guru dengan siswa perlihatkan ketika peristiwa tutur terjadi antara lain: [a] Ada kesamaan pemahaman secara langsung atau eksplisit yang diperlihatkan guru dan siswa sehingga praanggapan implikatur yang mereka perlihatkan sesuai dalam hal ini menggunakan prinsip kerja sama maksim kualitas. (b) ada kesamaan pemahaman secara tidak langsung atau implisit, tetapi untuk sampai pada pengertian yang maksudkan, guru harus menggali jawaban yang dimaksud siswa dengan memunculkan pertanyaan baru. Kecenderungan hal ini prinsip kerjasama yang digunakan dengan maksim kuantitas, dan cara. (c) tidak ada kesesuaian antara praanggapan dan implikatur dalam arti lain yang ditanya, lain yang dijawab (maksim relevansi atau hubungan).
Praanggapan dan implikatur hanyalah salah satu bagian dari kajian analisis wacana. Karena itu, pada kesempatan lain bagi penganalisis wacana agar dapat melakukan peninjauan lebih jauh dan aspek lain dan kompleks atau pada konteks wacana yang berbeda, baik itu mengenai kontruksi tema – rema, referensi (Reference), dan infrensi (inference), konteks situasi (the contec optituation) dan ko-teks (co-text), tematisasi dan penahapan, pronomina dalam wacana, serta yang lainnya. Dengan analisis yang lebih mendalam dan beragam diharapkan dapat merepresentasikan isi wacana dalam rangka menemukan makna wacana lisan yang bersangkutan.
DAFTAR PUSTAKA
Brown, Gillian dan Yuli. 1996. Analisis Wacana. (Terj. I Soetikno). Jakarta: PT Gramedia.
Irawan, Prasetya. 1999. Logika dan Prosedur Penelitian. Jakarta: STIA-LAN Press.
Mardalis. 1995. Metode Penelitian Suatu Pendekatan Proposal. Jakarta: Sinar Grafika Offset.
Maria S., Rumi. 2000. “Pelaksanaan Pengajaran Apresaisi Puisi Siswa Kelas 1 SMUN 1 Kuala Lempuing Kotamadya Bengkulu”. Bengkulu: Skripsi FKIP Unib.
Muhadjir, Neong. 1996. Metode Penelitian Kualitatif. Yogyakarta: Rake Sarasin.
Nababan.. 1989. Ilmu Pragmatik: Teori dan Penerapannya. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktoran Jendral Pendidikan Tinggi.
Pranowo. 1996. Analisis Pengajaran bahasa. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Saadie, Mamur. dkk. 2007. Strategi Pembelajaran Bahasa Indonesia. Jakarta: Universitas Terbuka.
Subekti, Susilo. 2006. “Pelaksanaan Pengelolaan Kelas dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas X SMAN 2 Kota Bengkulu Tahun Ajaran 2005/2006”. Bengkulu: Skripsi FKIP Unib.
Sukarno. 1993. Kontruksi Tema Rema dalam Bahasa Indonesia Lisan tidak Resmi masyarakat Kodya Malang. Jakarta: Depdikbud.
Suryanti, Lilis. 2009.” Penggunaan Bahasa Indonesia oleh Guru Sekolah Dasar Negeri di Seluma”. Bengkulu: Skripsi FKIP Unib.
Yasin, Anas. 1991. Gramatika Komunikatif: Sebuah Model. (Disertasi) IKIP Malang.
Yasin, Anas. 2002. Aplikasi Analisis Wacana dalam Pengajaran Bahasa Asing. Makalah disampaikan pada pertemuan regional – Masyarakat linguistik Indonesia (PIR-MLI) 18 Mei 2002.
Yasin, Anas. 2002. Arah kajian bahasa: Kaitannya dengan Perkembangan Pendidikan, Iptek, dan Sosial Budaya. Makalah dalam SEKOLAR Volume 3, Nomor 1, Juni 2002.

ANALISIS NOVEL SENGSARA MEMBAWA NIKMAT


Identitas Novel
Judul : Sengsara Membawa Nikmat
Pengarang : Tulis Sutan Sati
Penerbit : Balai Pustaka
Cetakan : 1929
Tebal Buku : 192 Halaman


Analisis Instrinsik Novel Sengsara Membawa Nikmat

Tema : Kesabaran seseorang dalam menerima penderitaan
Tokoh dan Penokohan :
  1. Midun adalah seorang pemuda berbudi, sopan, taat pada agama, serta penyabar.
  2. Tuanku Laras adalah seorang Kepala Kampung yang sangat kaya. Dia sangat ditakuti dan disegani dikampungnya.
  3. Kacak adalah seorang pemuda yang mempunyai sifat dan tingkah laku kurang baik. Dia angkuh, kasar, serta suka berpoya-poya.
  4. Haji Abbas adalah seorang penghulu dan guru ngaji serta guru silat.
  5. Maun adalah seorang pemuda berbudi, sopan, serta taat kepada ajaran agama. Dia sahabat kental Midun.
  6. Halimah adalah seorang gadis yatim. Dia tinggal dengan ayah tirinya yang kaya raya. Dia termasuk perempuan berbudi dan taat pada agama.
  7. Pak Karto adalah seorang sipir penjara tempat Midun sewaktu dipenjara di Jakarta. Dia mempunyai hati yang baik.
  8. Syekh Abdullah Al-Hadramut adalah saudagar kaya keturunan Arab. Hatinya kurang baik. Dia terkenal sebagai seorang rentenir.
  9. Tuan Hoofdcommissaris adalah seorang kompeni dengan jabatan sebagai Kepala Komisaris. Dia mempunyai hati yang baik.
  10.   Manjau adalah pemuda baik-baik, adik kandung Midun.

Alur : Maju
Latar : Latar tempat
a. Padang (Minangkabau)
b. Bogor
c. Jakarta


Amanat : - Bersabarlah dalam menjalani kehidupan karena tak ada kehidupan yang tanpa ujian atau cobaan, dan percayalah bahwa dibalik cobaan dan ujian yang datang pasti ada hikmah yang tersembunyi.
- Pandai-pandailah mengemudikan hawa nafsu. Hawa nafsu tak ada batasnya dan hawa nafsu ini kerap kali menjerumuskan orang pada lembah kesengsaraan.

Sudut Pandang : Sudut pandang dalam Novel Sengsara Membawa Nikmat yaitu sudut pandang serba tahu.
Dalam tipe ini tentunya pengarang akan bertindak serba tahu. Pengarang mengetahui serba watak, keadaan, sifat hidup, dan sebagainya darai semua yang ada. Dari tingkah laku yang amat pribadi sampai kepada hal-hal yang jelas kelihatan dari setiap tokoh. Dari pikiran yang terselubung sampai kepada aktivitas konkret dapat diamati. Pendek kata, pengarang benar-benar berperan sebagai seorang dalang yang menciptakan bahkan menentukan segala yang ada. Pengarang tidak hanya tahu ciri-ciri lahir maupun isi hati semua tokoh dalam cerita yang dikarangnya, tetapi juga tahu tentang nasib yang akan dialami tokoh-tokoh itu.

Gaya Penulisan : Dalam penulisan Novel Sengsara Membawa Nikmat pengarang lebih banyak menggunakan bahasa melayu yang tidak lain yakni bahasa yang digunakan oleh masyarakat Minangkabau.


            
  Seorang pemuda bernama Kacak, karena merasa Mamaknya adalah seorang Kepala Desa yang dikuti, selalu bertingkah angkuh dan sombong. Dia suka ingin menang sendiri. Kacak paling tidak senang melihat orang bahagia atau yang melebihi dirinya. Kacak kurang disukai orang-orang kampungnya karena sifatnya yang demikian. Beda dengan Midun, walaupun anak orang miskin, namun sangat disukai oleh orang-orang kampungnya. Sebab Midun mempunyai perangai yang baik, sopan, taat agama, ramah serta pintar silat. Midun tidak sombong seperti Kacak
                Karena Midun banyak disukai orang, maka Kacak begitu iri dan dengki pada Midun. Kacak sangat benci pada Midun. Sering dia mencari kesempatan untuk bisa mencelakakan Midun, namun tidak pernah berhasil. Dia sering mencari gara-gara agar Midun marah padanya, namun Midun tak pernah mau menanggapinya. Midun selalu menghindar ketika diajak Kacak untuk berkelahi. Midun bukan takut kalah dalam berkelahi dengan Kacak, karena dia tidak senang berkelahi saja. Ilmu silat yang dia miliki dari hasil belajarnya pada Haji Abbas bukan untuk dipergunakan berkelahi dan mencari musuh tapi untuk membela diri dan mencari teman.
Suatu hari istri Kacak terjatuh dalam sungai. Dia hampir lenyap dibawa arus. Untung waktu itu Midun sedang berada dekat tempat kejadian itu. Midun dengan sigap menolong istri Kacak itu. Istri Kacak selamat berkat pertolongan Midun. Kacak malah balik menuduh Midun bahwa Midun hendak memperkosa istrinya. Air susu dibalas dengan air tuba. Begitulah Kacak berterima kasih pada Midun. Waktu itu Midun menanggapi tantangan itu. Dalam perkelahian itu Midun yang menang. Karena kalah, Kacak menjadi semakin marah pada Midun. Kacak melaporkan semuanya pada Tuanku Laras. Kacak memfitnah Midun waktu itu, rupanya Tuanku Laras percaya dengan tuduhan Kacak itu. Midun mendapat hukuman dari Tuanku Laras.
Midun diganjar hukuman oleh Tuanku Laras, yaitu harus bekerja di rumah Tuanku Laras tanpa mendapat gaji. Sedangkan orang yang ditugaskan oleh Tuanku Laras untuk mengwasi Midun selama menjalani hukuman itu adalah Kacak. Mendapat tugas itu, Kacak demikian bahagia. Kacak memanfaatkan untuk menyiksa Midun. Hampir tiap hari Midun diperlakukan secara kasar. Pukulan dan tendangan Kacak hampir tiap hari menghantam Midun. Juga segala macam kata-kata hinaan dari Kacak tiap hari mampir di telinga Midun. Namun semua perlakuan itu Midun terima dengan penuh kepasrahan.
            Walaupun Midun telah mendapat hukuman dari Mamaknya itu, namun Kacak rupanya belum puas juga. Dia belum puas sebab Midun masih dengan bebas berkeliaran di kampung utu. Dia tidak rela dan ikhlas kalau Midun masih berada di kampung itu. Kalau Midun masih berada di kampung mereka, itu berarti masih menjadi semacam penghalang utama bagi Kacak untuk bisa berbuat seenaknya di kampung itu. Untuk itulah dia hendak melenyapkan Midun dari kampung mereka untuk selama-lamanya.
            Untuk melaksanakan niatnya itu, Kacak membayar beberapa orang pembunuh bayaran untuk melenyapkan Midun. Usaha untuk melenyapkan Midun itu mereka laksanakan ketika di kampung itu diadakan suatu perlombaan kuda. Sewaktu Midun dan Maun sedang membeli makanan di warung kopi di pinggir gelanggang pacuan kuda itu, orang-orang sewaan Kacak itu menyerang Midun dengan sebelah Midun pisau.
            Tapi untung Midun berhasil mengelaknya. Namun perkelahian antar mereka tidak bisa dihindari. Maka terjadilah keributan di dalam acar pacuan kuda itu. Perkelahian itu berhenti ketika polisi datang. Midun dan Maun langsung ditangkap dan dibawa ke kantor polisi.
Setelah diperiksa, Maun dibebaskan. Sedangkan Midun dinyatakan bersalah dan wajib mendekam dalam penjara. Mendengar kabar itu, waduuh betapa senangnya hati Kacak. Dengan Midun masuk penjara, maka dia bisa dengan bebas berbuat di kampung itu tanpa ada orang yang berani menjadi penghalangnya.
            Selama di penjara itu, Midun mengalami berbagai siksaan. Dia di siksa oleh Para sipir penjara ataupun oleh Para tahanan yang ada dalam penjara itu. Para tahanan itu baru tidak berani mengganggu Midun ketika Midun suatu hari ber¬hasil mengalahkan si jago Para tahanan.
            Karena yang paling dianggap jago oleh Para tahanan itu kalah, mereka kemudian pada takut dengan Midun. Midun sejak itu sangat dihormati oleh para tahanan lainnya. Midun menjadi sahabat mereka.
           
            Suatu hari, ketika Midun sedang bertugas menyapu jalan, Midun Melihat seorang wanita cantik sedang duduk duduk melamun di bawah pohon kenari. Ketika gadis itu pergi, ternyata kalung yang dikenakan gadis itu tertinggal di bawah pohon itu. Kalung itu kemudian dikembalikan oleh Midun ke rumah si gadis. Betapa senang hati gadis itu. Gadis itu sampai jatuh hati sama Midun. Midun juga temyata jatuh hati juga sama si gadis. Nama gadis itu adalah Halimah.
            Setelah pertemuan itu, mereka berdua saling bertemu dekat jalan dulu itu. Mereka saling cerita pengalaman hidup, Halimah bercerita bahwa dia tinggal dengan seorang ayah tiri. Dia merasa tidak bebas tinggal dengan ayah tirinya. Dia hendak pergi dari rumah. Dia sangat mengharapkan suatu saat dia bisa tinggal dengan ayahnya yang waktu itu tinggal di Bogor.
Keluar dari penjara, Midun membawa lari Halimah dari rumah ayah tirinya itu. Usaha Midun itu dibantu oleh Pak Karto seorang sipir penjara yang baik hati. Midun membawa Halimah ke Bogor ke rumah orang tua Halimah.
            Ayah Halimah orangnya baik. Dia sangat senang kalau Midun bersedia tinggal bersama mereka. Kurang lebih dua bulan Midun bersama ayah Halimah. Midun merasa tidak enak selama tinggal dengan keluarga Halimah itu hanya tinggal makan minum saja. Dia mulai hendak mencari penghasilan. Dia kemudian pergi ke Jakarta mencari kerja. Dalam Perjalanan ke Jakarta. Midun berkenalan dengan saudagar kaya keturunan arab. Nama saudagar ini sebenarnya seorang rentenir. Dengan tanpa pikiran yang jelek-jelek, Midun mau menerima uang pinjaman Syehk itu.
Sesuai dengan saran Syehk itu, Midun membuka usaha dagang di Jakarta. Usaha Midun makin lama makin besar.
            Usahanya maju pesat. Melihat kemajuan usaha dagang yang dijalani Midun, rupanya membuat Syehk Abdullah Al-Hadramut iri hati. Dia menagih hutangnya Midun dengan jumlah yang jauh sekali dari jumlah pinjaman Midun. Tentu saja Midun tidak bersedia membayarnya dengan jumlah yang berlipat lipat itu. Setelah gagal mendesak Midun dengan cara demikian, rupanya Syehk menagih dengan cara lain. Dia bersedia uangnya tidak di¬bayar atau dianggap lunas, asal Midun bersedia menyerahkan Halimah untuk dia jadikan sebagai istrinya. Jelas tawaran itu membuat Midun marah besar pada Syehk . Halimah juga sangat marah pada Syehk.
Karena gagal lagi akhirnya Syehk mengajukan Midun ke meja hijau. Midun diadili dengan tuntutan hutang. Dalam persidangan itu Midun dinyatakan bersalah oleh pihak pengadilan. Midun masuk penjara lagi.
            Di hari Midun bebas itu, Midun jalan jalan dulu ke Pasar Baru. Sampai di pasar itu, tiba tiba Midun melihat suatu keributan. Ada seorang pribumi sedang mengamuk menyerang seorang Sinyo Belanda. Tanpa pikir panjang Midun yang suka menolong_orang itu, langsung menyelamatkan Si Sinyo Belanda.itu. Sinyo Belanda itu sangat berterima kasih pada Midun yang telah menyelamatkan nyawanya itu.
            Oleh Sinyo Belanda itu, Midun kemudian diperkenalkan kepada orang tua Sinyo itu. Orang tua Sinyo Belanda itu ternyata seorang Kepala Komisaris, yang dikenal sebagai Tuan Hoofdcommissaris. Sebagai ucapan terima kasihnya pada Midun yang telah menyelamatkan anaknya itu, Midun langsung diberinya pekerjaan. Pekerjaan Midun sebagai seorang juru Tulis.
Setelah mendapat pekerjaan itu, Midun pun melamar Halimah. Dan mereka pun menikah di Bogor di rumah orang tua Halimah.
            Prestasi kerja Midun begitu baik di mata pimpinannya. Midun kemudian diangkat menjadi Kepala Mantri Polisi di Tanjung Priok. Dia langsung ditu¬gaskan menumpas para penyeludup di Medan. Selama di Medan itu, Midun, bertemu dengan adiknya, yaitu Manjau. Manjau bercerita banyak tentang kampung halamannya. Midun begitu sedih rnendengar kabar keluarganya di kampung yang hidup menderita. Oleh karena itu ketika dia pulang ke Jakarta, Midun langsung minta ditugaskan di Kampung halamannya. Permintaan Midun itu dipenuhi oleh pimpinannya.
            Kepulangan Midun ke kampung halamannya itu membuat Kacak sangat gelisah. Kacak waktu itu sudah menjadi penghulu di kampung rnereka. Kacak menjadi gelisah sebab dia takut perbuatannya yang telah menggelap¬kan kas negara itu akan terbongkar. Dan dia yakin Midun akan berhasil rnembongkar perbuatan jeleknya itu. Tidak, lama kemudian, memang Kacak ditangkap. Dia terbukti telah menggelapkan uang kas negara yang ada di desa mereka. Akibatnya Kacak masuk penjara atas perbuatannva itu.
Sedangkan Midun hidup berbahagia bersama istri dan seluruh keluarga¬nya di kampung.

Sabtu, 31 Desember 2011

PENGERTIAN ARTIKEL

Menulis Artikel dan Pengertiannya

  • Menulis dan Mengarang
Ada suatu pandangan tradisional yang menyebutkan bahwa menulis dan mengarang adalah dua kegiatan yang berbeda, meski sama-sama berkenaan dengan aspek kebahasaan. Kegiatan menulis sering diasosiasikan dengan ilmu yang sifatnya faktual, sedangkan kegiatan mengarang selalu diasosiasikan dengan karya sastra yang fiksional (Kamandobat 2007). Dengan kata lain, kegiatan menulis mutlak membutuhkan studi ilmiah, sedangkan kegiatan mengarang tidak.

Pandangan tersebut tentu tidak benar. Kita tentu ingat novel "Da Vinci Code" yang menggemparkan. Lalu kita juga mungkin masih ingat "The Origin of Species" karya Charles Darwin. Keduanya berasal dari ranah yang berbeda, namun masing-masing disajikan dengan bahasa yang terkesan ilmiah dan literer.
Akan tetapi, ada satu hal yang membedakan keduanya. Hal tersebut ialah dalam hal penekanannya. Meskipun sebuah karya tulis disajikan dengan bahasa literer, bila penekanannya menjurus ke bidang keilmuan -- termasuk ilmu sastra -- kita bisa mengelompokkannya ke dalam kegiatan menulis. Demikian sebaliknya, kegiatan menghasilkan karya tulis yang lebih bernuansa fiktif, meski terkesan faktual, bisa disebut sebagai kegiatan mengarang.

Menulis Artikel
Ada sejumlah pengertian mengenai artikel. Berikut beberapa di antaranya.
Artikel merupakan karya tulis lengkap, misal laporan berita atau esai di majalah, surat kabar, dan sebagainya (KBBI 2002: 66).
Artikel adalah sebuah karangan prosa yang dimuat dalam media massa, yang membahas isu tertentu, persoalan, atau kasus yang berkembang dalam masyarakat secara lugas (Tartono 2005: 84).
Artikel merupakan:
karya tulis atau karangan;
karangan nonfiksi;
karangan yang tak tentu panjangnya;
karangan yang bertujuan untuk meyakinkan, mendidik, atau menghibur;
sarana penyampaiannya adalah surat kabar, majalah, dan sebagainya;
wujud karangan berupa berita atau "karkhas" (Pranata 2002: 120).

MENULIS SECARA ILMIAH POPULER
Pada dasarnya, ada beberapa jenis model penulisan artikel. Model-model tersebut bisa dikelompokkan kepada tingkat kerumitannya. Model yang paling mudah ialah model penulisan populer. Tulisan populer biasanya tulisan ringan yang tidak "njelimet" dan bersifat hiburan. Termasuklah di dalamnya gosip. Selain itu, bahasa yang digunakan juga cenderung bebas (perhatikan, misalnya, bahasa yang digunakan di majalah GetFresh!). Model yang paling sulit ialah penulisan ilmiah. Model ini mensyaratkan objektivitas dan kedalaman pembahasan, dukungan informasi yang relevan, dan biasa diharapkan menjelaskan "mengapa" atau "bagaimana" suatu perkara itu terjadi, tanpa pandang bulu dan eksak (Soeseno 1982: 2). Dari aspek bahasa, tentu saja tulisan ilmiah mensyaratkan bahasa yang baku.
Meski demikian, ada satu model penulisan yang berada di tengah-tengahnya. Model tersebut dikenal dengan penulisan ilmiah populer dan merupakan perpaduan penulisan populer dan ilmiah. Istilah ini mengacu pada tulisan yang bersifat ilmiah, namun disajikan dengan cara penuturan yang mudah dimengerti (Soeseno 1982: 1; Eneste 2005: 171). Model inilah yang digunakan dalam publikasi Yayasan Lembaga SABDA pada umumnya.


JENIS-JENIS ARTIKEL
Ada beberapa jenis artikel berdasarkan dari siapa yang menulis dan fungsi atau kepentingannya (Tartono 2005: 85-86). Berdasarkan penulisnya, ada artikel redaksi dan artikel umum. Artikel redaksi ialah tulisan yang digarap oleh redaksi di bawah tema tertentu yang menjadi isi penerbitan. Sedangkan artikel umum merupakan tulisan yang ditulis oleh umum (bukan redaksi).
Sedangkan dari segi fungsi atau kepentingannya, ada artikel khusus dan artikel sponsor. Artikel khusus adalah nama lain dari artikel redaksi. Sedangkan artikel sponsor ialah artikel yang membahas atau memperkenalkan sesuatu.
MULAI MENULIS ARTIKEL
Menguji Gagasan
Prinsip paling dasar dari melakukan kegiatan menulis ialah menentukan atau memastikan topik atau gagasan apa yang hendak dibahas. Ketika sudah menentukan gagasan tersebut, kita bisa melakukan sejumlah pengujian. Pengujian ini terdiri dari lima tahap sebagai berikut (Georgina dalam Pranata 2002: 124; band. Nadeak 1989: 44).
Apakah gagasan itu penting bagi sejumlah besar orang?
Dapatkah gagasan ini disempitkan sehingga memunyai fokus yang tajam?
Apakah gagasan itu terikat waktu?
Apakah gagasan itu segar dan memiliki pendekatan yang unik?
Apakah gagasan Anda akan lolos dari saringan penerbit?
Pola Penggarapan Artikel
Ketika hendak menghadirkan artikel, kita tidak hanya diperhadapkan pada satu kemungkinan. Soeseno (1982: 16-17) memaparkan setidaknya lima pola yang bisa kita gunakan untuk menyajikan artikel tersebut. Berikut kelima pola yang dimaksudkan.
Pola pemecahan topik
Pola ini memecah topik yang masih berada dalam lingkup pembicaraan yang ditemakan menjadi subtopik atau bagian-bagian yang lebih kecil dan sempit kemudian menganalisa masing-masing.
Pola masalah dan pemecahannya
Pola ini lebih dahulu mengemukakan masalah (bisa lebih dari satu) yang masih berada dalam lingkup pokok bahasan yang ditemakan dengan jelas. Kemudian menganalisa pemecahan masalah yang dikemukakan oleh para ahli di bidang keilmuan yang bersangkutan.
Pola kronologi
Pola ini menggarap topik menurut urut-urutan peristiwa yang terjadi.
Pola pendapat dan alasan pemikiran
Pola ini baru dipakai bila penulis yang bersangkutan hendak mengemukakan pendapatnya sendiri tentang topik yang digarapnya, lalu menunjukkan alasan pemikiran yang mendorong ke arah pernyataan pendapat itu.
Pola pembandingan
Pola ini membandingkan dua aspek atau lebih dari suatu topik dan menunjukkan persamaan dan perbedaannya. Inilah pola dasar yang paling sering dipakai untuk menyusun tulisan.
Kelima pola penggarapan artikel di atas dapat dikombinasikan satu dengan yang lain sejauh dibutuhkan untuk menghadirkan sebuah tulisan yang kaya.

Menulis Bagian Pendahuluan
Untuk bagian pendahuluan, setidaknya ada tujuh macam bentuk pendahuluan yang bisa digunakan (Soeseno 1982: 42). Salah satu dari ketujuh bentuk pendahuluan berikut ini dapat kita jadikan alternatif untuk mengawali penulisan artikel kita.

selebihnya
Ringkasan
Pendahuluan berbentuk ringkasan ini nyata-nyata mengemukakan pokok isi tulisan secara garis besar.
Pernyataan yang menonjol
Terkadang disebut juga sebagai "pendahuluan kejutan", diikuti kalimat kekaguman untuk membuat pembaca terpesona.
Pelukisan
Pendahuluan yang melukiskan suatu fakta, kejadian, atau hal untuk menggugah pembaca karena mengajak mereka membayangkan bersama penulis apa-apa yang hendak disajikan dalam artikel itu nantinya.
Anekdot
Pembukaan jenis ini sering menawan karena memberi selingan kepada nonfiksi, seolah-olah menjadi fiksi.
Pertanyaan
Pendahuluan ini merangsang keingintahuan sehingga dianggap sebagai pendahuluan yang bagus.
Kutipan orang lain
Pendahuluan berupa kutipan seseorang dapat langsung menyentuh rasa pembaca, sekaligus membawanya ke pokok bahasan yang akan dikemukakan dalam artikel nanti.
Amanat langsung
Pendahuluan berbentuk amanat langsung kepada pembaca sudah tentu akan lebih akrab karena seolah-olah tertuju kepada perorangan.
Meskipun merupakan pendahuluan, bagian ini tidaklah mutlak ditulis pertama kali. Mengingat tugasnya untuk memancing minat dan mengarahkan pembaca ke arah pembahasan, sering kali menulis bagian pendahuluan ini menjadi lebih sulit daipada menulis judul atau tubuh tulisan. Oleh karena itu, Soeseno (1982: 43) menyarankan agar menuliskan bagian lain terlebih dahulu.

Menulis Bagian Pembahasan atau Tubuh Utama
Bagian ini disarankan dipecah-pecah menjadi beberapa bagian. Masing-masing dibatasi dengan subjudul-subjudul. Selain memberi kesempatan agar pembaca beristirahat sejenak, subjudul itu juga bertugas sebagai penyegar, pemberi semangat baca yang baru (Soeseno 1982: 46). Oleh karena itu, ada baiknya subjudul tidak ditulis secara kaku.
Pada bagian ini, kita bisa membahas topik secara lebih mendalam. Uraikan persoalan yang perlu dibahas, bandingkan dengan persoalan lain bila diperlukan.
Menutup Artikel
Kerangka besar terakhir dalam suatu karya tulis ialah penutup. Bagian ini biasanya memuat simpulan dari isi tulisan secara keseluruhan, bisa juga berupa saran, imbauan, ajakan, dan sebagainya (Tartono 2005: 88).
Ketika hendak mengakhiri tulisan, kita tidak mesti terang-terangan menuliskan subjudul berupa "Penutup" atau "Simpulan". Penutupan artikel bisa kita lakukan dengan menggunakan gaya berpamitan (Soeseno 1982: 48). Gaya pamit itu bisa ditandai dengan pemarkah seperti "demikian", "jadi", "maka", "akhirnya", dan bisa pula berupa pertanyaan yang menggugah pembaca.
Pemeriksaan Isi Artikel
Ketika selesai menulis artikel, hal selanjutnya yang perlu kita lakukan ialah melakukan pemeriksaan menyeluruh. Untuk meyakinkan bahwa tulisan yang kita hasilkan memang baik, kita harus rajin memeriksa tulisan kita. Untuk memudahkan pengoreksian artikel, beberapa pertanyaan berikut perlu kita jawab (Pranata 2002: 129-130).
Untuk pembukaan, misalnya, apakah kalimat pembuka bisa menarik pembaca? Dapatkah pembaca mulai mengerti ide yang kita tuangkan? Jika tulisan kita serius, adakah kata-kata yang sembrono? Apakah pembukaan kita menyediakan cukup banyak informasi?
Untuk isi atau tubuh, apakah kalimat pendukung sudah benar-benar mendukung pembukaan? Apakah masing-masing kalimat berhubungan dengan ide pokok? Apakah ada urutan logis antarparagraf?
Untuk simpulan, apakah disajikan dengan cukup kuat? Apakah mencakup semua ide tulisan? Bagaimana reaksi kita terhadap kata-kata dalam simpulan tersebut? Sudah cukup yakinkah kita bahwa pembaca pun akan memiliki reaksi seperti kita?
Jika kita menjawab "tidak" untuk tiap pertanyaan tersebut, berarti kita perlu merevisi artikel itu dengan menambah, mengganti, menyisipi, dan menulis ulang bagian yang salah.

ASPEK BAHASA DALAM ARTIKEL
Melihat target pembacanya yang adalah khalayak umum, kita perlu mencermati bahasa yang kita gunakan dalam menulis artikel ilmiah populer ini. Meskipun bersifat ilmiah (karena memakai metode ilmiah), bukan berarti tulisan yang kita hasilkan ditujukan untuk kalangan akademisi. Sebaliknya, artikel ilmiah populer ditujukan kepada para pembaca umum.
Mengingat kondisi tersebut, kita perlu membedakan antara kosakata ilmiah dan kosakata populer. Kata-kata populer merupakan kata-kata yang selalu akan dipakai dalam komunikasi sehari-hari, baik antara mereka yang berada di lapisan atas maupun di lapisan bawah, demikian sebaliknya. Sedangkan kata-kata yang biasa dipakai oleh kaum terpelajar, terutama dalam tulisan-tulisan ilmiah, pertemuan-pertemuan resmi, diskusi-diskusi khusus disebut kata-kata ilmiah (Keraf 2004: 105-106).
Berikut daftar kata ilmiah dan populer.

KATA ILMIAH KATA POPULER
analogi kiasan
anarki kekacauan
bibliografi daftar pustaka
biodata biografi singkat
definisi batasan
diskriminasi perbedaan perlakuan
eksentrik aneh
final akhir
formasi susunan
format ukuran
friksi bagian, pecahan
indeks penunjuk
konklusi kesimpulan
kontemporer masa kini, mutakhir
kontradiksi pertentangan
menganalisa menguraikan
prediksi ramalan
pasien orang sakit

PERBEDAAN PUISI LAMA DAN BARU

Ciri Ciri Sastra Lama | Perbedaan Antara Sastra Baru Dengan Sastra Lama - Istilah prosa diambil dari bahasa Latin yaitu oratio provorsa artinya ucapan langsung. Dalamkesusastraan, prosa merupakan sejenis karya sastra yang bersifat paparan. Prosa sering pula disebut karangan bebas karena tidak diikat oleh aturan-aturan khusus (misalnya rima, ritme seperti halnya dalam puisi).
Menurut zamannya (masanya) prosa dibedakan menjadi dua periode yaitu prosa lama dan prosa baru. Prosa lama sebagai gambaran kehidupan masyarakat pada zaman dahulu, yaitu kehidupan masyarakat sebelum memiliki rasa kesadaran nasional. Jika dibatasi dengan tahun, prosa lama ini berkembang sebelum tahun 1900. Prosa lama dibedakan beberapa jenis
di antaranya dongeng, cerita rakyat (fokslore), cerita pelipur lara, hikayat, tambo, epos(wiracarita), cerita berbingkai, dan kitab-kitab.
Sastralamayangberbentuk prosa,umumnyamempunyaiciri-ciri:
1.
Ceritanya seputar kehidupari istana. Karena itu bersifat istana sentris.
2.
Menggambarkan tradisi masyarakat yang lebih menonjolkan kekolektifan daripada
keindividualan. Sebagai akibat logisnya, sastra lama dianggap milik bersama (kolektif).
3.
Konsekuensi dari ciri kedua, sastra lama bersifat anonim, pengarangnya tidak dikenal.
4.
Sastra lama bersifat lisan, disampaikan dari generasi ke generasi secara lisan, dari mulut
ke mulut (leluri).
1.
Mengidentifikasi Ciri Hikayat sebagai Bentuk Karya Sastra La ma
Hikayat artinya cerita atau riwayat, Secara lengkap, pengertian1 hikayat adalah sejenis prosa sastra
melayu lama yang ceritanya berkisar pada sikap kepahlawanan tokoh-tokoh istana. Sebagai karya
sastra lama, hikayat memiliki ciri-ciri:
a. Ceritanya berkisar pada sikap kepahlawanan tokoh-tokoh istana (istana sentris).
b. Kisahnya bercampur dengan dunia khayal yang dalam banyak hal dilebih-lebihkan.
c. Pada umumnya dihubungkan dengan peristiwa sejarah tertentu.
karya sastra lama berbentuk hikayat misalnya Hikayat Si Miskin, Hikayat Hang Tuah,
Hikayat Indra Bangsawan, Hikayat Sang Boma, Hikayat Panji Semirang, Hikayat Raja Budiman,
dan lain-lain.

Sumber: Peristiwa Sastra Melayu Lama, Drs. H. Soetarno, 2003

PERBEDAAN ANTARA SASTRA BARU DENGAN SASTRA LAMA

A. Sastra Lama
Sastra lama adalah sastra yang berbentu lisan atau sastra melayu yang tercipta dari suatu ujaran atau ucapan. Sastra lama masuk ke indonesia bersamaan dengan masuknya agama islam pada abad ke-13. Peninggalan sastra lama terlihat pada dua bait syair pada batu nisan seorang muslim di Minye Tujuh, Aceh.
Ciri dari sastra lama yaitu :
- Anonim atau tidak ada nama pengarangnya
- Istanasentris (terikat pada kehidupan istana kerajaan)
- Tema karangan bersifat fantastis
- Karangan berbentuk tradisional
- Proses perkembangannya statis
- bahasa klise
Contoh sastra lama : fabel, sage, mantra, gurindam, pantun, syair, dan lain-lain.
B. Sastra Baru
Sastra baru adalah karya sastra yang telah dipengaruhi oleh karya sastra asing sehingga sudah tidak asli lagi.
Ciri dari sastra baru yakni :
- Pengarang dikenal oleh masyarakat luas
- Bahasanya tidak klise
- Proses perkembangan dinamis
- tema karangan bersifat rasional
- bersifat modern / tidak tradisional
- masyarakat sentris (berkutat pada masalah kemasyarakatan)

Original From : http://m-wali.blogspot.com/2011/12/ciri-ciri-sastra-lama-perbedaan-antara.html#ixzz1i2g0XCjv

Hubungan Teori Sastra dengan Kritik Sastra dan Sejarah SastrA

Pada hakikatnya, teori sastra membahas secara rinci aspek-aspek yang terdapat di dalam karya sastra, baik konvensi bahasa yang meliputi makna, gaya, struktur, pilihan kata, maupun konvensi sastra yang meliputi tema, tokoh, penokohan, alur, latar, dan lainnya yang membangun keutuhan sebuah karya sastra. Di sisi lain, kritik sastra merupakan ilmu sastra yang mengkaji, menelaah, mengulas, memberi pertimbangan, serta memberikan penilaian tentang keunggulan dan kelemahan atau kekurangan karya sastra. Sasaran kerja kritikus sastra adalah penulis karya sastra dan sekaligus pembaca karya sastra. Untuk memberikan pertimbangan atas karya sastra kritikus sastra bekerja sesuai dengan konvensi bahasa dan konvensi sastra yang melingkupi karya sastra. Demikian juga terjadi hubungan antara teori sastra dengan sejarah sastra. Sejarah sastra adalah bagian dari ilmu sastra yang mempelajari perkembangan sastra dari waktu ke waktu, periode ke periode sebagai bagian dari pemahaman terhadap budaya bangsa.
Perkembangan sejarah sastra suatu bangsa, suatu daerah, suatu kebudayaan, diperoleh dari penelitian karya sastra yang dihasilkan para peneliti sastra yang menunjukkan terjadinya perbedaan-perbedaan atau persamaan-persamaan karya sastra pada periode-periode tertentu. Secara keseluruhan dalam pengkajian karya sastra, antara teori sastra, sejarah sastra dan kritik Sastra terjalin keterkaitan.

makalah EYD bahasa indonesia

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Bahasa memiliki peranan penting dalam kehidupan, karena selain digunakan sebagaialat komunikasi secara langsung, bahasa juga dapat digunakan sebagai alat komunikasi secaratulisan, di zaman era globalisasi dan pembangunan reformasi demokrasi ini, masyarakatdituntut secara aktif untuk dapat mengawasi dan memahami infrormasi di segala aspek kehidupan sosial secara baik dan benar, sebagai bahan pendukung kelengkapan tersebut, bahasa berfungsi sebagai media penyampaian informasi secara baik dan tepat, dengan penyampaian berita atau materi secara tertulis, diharapkan masyarakat dapat menggunakanmedia tersebut secara baik dan benar. Dalam memadukan satu kesepakatan dalam etika berbahasa, disinilah peran aturan baku tersebut di gunakan, dalam hal ini kita selaku warga Negara yang baik hendaknya selalu memperhatikan rambu-rambu ketata bahasaan Indonesiayang baik dan benar. Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) adalah sub. materi dalam ketata bahasaan Indonesia, yang memilik peran yang cukup besar dalam mengatur etika berbahasasecara tertulis sehingga diharapkan informasi tersebut dapat di sampaikan dan di fahamisecara komprehensif dan terarah. Dalam prakteknya diharapkan aturan tersebut dapatdigunakan dalam keseharian Masyarakat sehingga proses penggunaan tata bahasa Indonesiadapat digunakan secara baik dan benar.

B. RUMUSAN MASALAH

Apa yang dimaksud dengan pengertian EYD?
Baagaimana sejarah perkembangan EYD?
Bagaimana ruang lingkup EYD?

TUJUAN
Untuk mengetahui pengertian EYD
Untuk Mengetahui sejarah EYD.
Untukmengetahui Ruang lingkup EYD.





BAB II

PEMBAHASAN

2.1 PENGERTIAN

Ejaan yang disempurnakan adalah ejaan bahasa indonesia yang berlaku sejak tahun 1972. Ejaan ini menggantikan ejaan sebelumnya, Ejaan Republik atau Ejaan Soewandi.Ejaan adalah seperangkat aturan tentang cara menuliskan bahasa dengan menggunakan huruf, Kata, dan tanda baca sebagai sarananya. Batasan tersebut menunjukan pengertian kata ejaan berbeda dengan kata mengeja.

Mengeja adalah kegiatan melafalkan huruf, suku kata, atau kata; sedangkan ejaan

adalah suatu sistem aturan yang jauh lebih luasdari sekedar masalah pelafalan. Ejaan mengatur keseluruhan caramenuliskan bahasa.

Ejaan merupakan kaidah yang harus dipatuhi oleh pemakai bahasademi keteraturan dan keseragaman bentuk, terutama dalam bahasa tulis.Keteraturan bentuk akan berimplikasi pada ketepatan dan kejelasanmakna. Ibarat sedang mengemudi kendaraan, ejaan adalah rambu lalulintas yang harus dipatuhi oleh setiap pengemudi. Jika para pengemudimematuhi rambu-rambu yang ada, terciptalah lalu lintas yang tertib danteratur. Seperti itulah kira-kira bentuk hubungan antara pemakai bahasa dengan ejaan.

2.2 SEJARAH EJAAN BAHASA INDONESIA

Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional lahir pada awal tahun dua puluhan. Namun dari segi ejaan, bahasa indonesia sudah lama memiliki ejaan tersendiri. Berdasarkan sejarah perkembangan ejaan, sudah mengalami perubahan sistem ejaan, yaitu :

1. Ejaan Van Ophuysen

Ejaan ini mulai berlaku sejak bahasa Indonesia lahir dalam awal tahun dua puluhan. Ejaan ini merupakan warisan dari bahasa Melayu yang menjadi dasari bahasa Indonesia.

2. Ejaan Suwandi

Setelah ejaan Van Ophuysen diberlakukan, maka muncul ejaan yang menggantikan, yaitu ejaan Suwandi. Ejaan ini berlaku mulai tahun 1947 sampai tahun 1972.

3. Ejaan Yang Disempurnakan (EYD)

Ejaan imi mulai berlaku sejak tahun 1972 sampai sekarang. Ejaan ini merupakan penyempurnaan yang pernah berlaku di Indonesia.

Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD) diterapkan secara resmi mulai tanggal 17 Agustus 1972 dengan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor : 57/1972 tentang peresmian berlakunya “Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan”. Dengan berlakunya EYD, maka ketertiban dan keseragaman dalam penulisan bahasa Indonesia diharapkan dapat terwujud dengan baik.

PERUBAHAN PEMAKAIAN HURUF

DALAM TIGA EJAAN BAHASA INDONESIA

Ejaan yang Disempurnakan (EYD)

(mulai 16 Agustus 1972)


Ejaan Republik

(Ejaan Soewandi)

1947-1972


Ejaan Ophuysen

(1901-1947)

Khusu

Jumat

Yakni


Chusus

Djum’at

Jakni


Choesoes

Djoem’at

Ja’ni

2.3 RUANG LINGKUP EJAAN YANG DISEMPURNAKAN (EYD)

Ruang lingkup EYD mencakup lima aspek yaitu (1) pemakaian huruf, (2) penulisan huruf, (3) penulisan kata, (4) penulisan unsur, dan (5) pemakaian tanda baca. 3)

1) Pemakaian Huruf

Ejaan bahasa Indonesia Yang Disempurnakan (EYD) dikenal paling banyak menggunakan huruf abjad. Sampai saat ini jumlah huruf abjad yang digunakan sebanyak 26 buah.

a. Huruf Abjad

Abjad yang digunakan dalam ejaan bahasa Indonesia terdiri atas huruf berikut. Nama setiap huruf disertakan disebelahnya.

Huruf


Nama


Huruf


Nama


Huruf


Nama
A a

B b

C c

D d

E e

F f

G g

H h

I i


a

be

ce

de

e

ef

ge

ha

i
J j

K k

L l

M m

N n

O o

P p

Q q

R r


je

ka

el

em

en

o

pe

ki

er
S s

T t

U u

V v

W w

X x

Y y

Z z


es

te

u

ve

we

eks

ye

zet

b. Huruf Vokal

Huruf yang melambangkan vokal dalam bahasa Indonesia terdiri atas huruf a, e, i, o, dan u.

Huruf Vokal


Contoh pemakaian dalam kata

Di awal


Di tengah


Di akhir

A

e

i

o

u


api

enak

itu

oleh

ulang


padi

petak

simpan

kota

bumi


lusa

sore

murni

radio

ibu

c. Huruf Konsonan

Huruf yang melambangkan konsonan dalam bahasa Indonesia terdiri atas huruf-huruf b, c, d, f, g, h, j, k, l, m, n, p, q, r, s, t, v, w, x, y, dan z.

Huruf konsonan


Contoh pemakaian dalam kata

Di awal


Di tengah


Di akhir

B

c

d

f

g

h

j

k

l

m

n

p

q

r

s

t

v

w

x

y

z


bahasa

cakap

dua

fakir

guna

hari

jalan

kami

lekas

maka

nama

pasang

Quran

raih

sampai

tali

varia

wanita

xenon

yakin

zeni


sebut

kaca

ada

kafan

tiga

saham

manja

paksa

alas

kami

anak

apa

Furqan

bara

asli

mata

lava

hawa

-

payung

lazim


adab

-

abad

maaf

balig

tuah

mikraj

politik

kesal

diam

daun

siap

-

putar

lemas

rapat

-

-

-

-

juz

d. Huruf Diftong

Di dalam bahasa Indonesia terdapat diftong yang dilambangkan dengan ai, au, dan oi.

Huruf Diftong


Contoh pemakaian dalam kata

Di awal


Di tengah


Di akhir

Ai

au

oi


ain

aula

-


syaitan

saudara

boikot


pandai

harimau

amboi

e. Gabungan Huruf Konsonan

Di dalam bahasa Indonesia terdapat empat gabungan huruf yang melambangkan konsonan, yaitu : kh, ng, ny, dan sy.Masing-masing melambangkan satu bunyi konsonan.5)

Gabungan huruf konsonan


Contoh pemakaian dalam kata

Di awal


Di tengah


Di akhir

Kh

ng

ny

sy


khusus

ngilu

nyata

syarat


akhir

bangun

hanyut

isyarat


tarikh

senang

-

arasy

2) Penulisan Huruf

Dua hal yang harus diperhatikan dalam penulisan huruf berdasarkan EYD, yaitu (1) penulisan huruf besar, dan (2) penulisan huruf miring. Lebih jelasnya dapat dilihat pada pembahasan berikut :

a. Penulisan Huruf Besar (Kapital)

Kaidah penulisan huruf besar dapat digunakan dalam beberapa hal, yaitu :

1) Digunakan sebagai huruf pertama kata pada awal kalimat.

Misalnya :

Dia menulis surat di kamar.

Tugas bahasa Indonesiasudah dikerjakan.

2) Digunakan sebagai huruf pertama petikan langsung.

Misalnya :

Ayah bertanya, “Apakah mahasiswa sudah libur?”.

“Kemarin engkau terlambat”, kata ketua tingkat.

3) Digunakan sebagai huruf pertama dalam ungkapan yang berhubungan dengan nama Tuhan, kata ganti Tuhan, dan nama kitab suci.

Misalnya :

Allah Yang Maha kuasa lagi Maha penyayang.

Terima kasih atas bimbingan-Mu ya Allah.

4) Digunakan sebagai huruf pertama nama gelar kehormatan , keturunan, keagamaan yang diikuti nama orang.

Misalnya :

Raja Gowa adalah Sultan Hasanuddin.

Kita adalah pengikut Nabi Muhammad saw.

5) Digunakan sebagai huruf pertama unsur nama jabatan dan pangkat yang diikuti nama orang, pengganti nama orang tertentu, nama instansi, dan nama tempat.

Misalnya :

Wakil Presiden Yusuf Kalla memberi bantuan mobil.

Laksamana Muda Udara Abd. Rahman telah dilantik.

Dia diangkat menjadi Sekretaris Jenderal Depdiknas.

Bapak Gubernur Sulawesi Selatan menerima laporan korupsi.

6) Digunakan sebagai huruf pertama unsur nama orang.

Misalnya :

Nurhikmah

Dewi Rasdiana Jufri

7) Digunakan sebagai huruf pertama nama bangsa, suku bangsa, dan nama bahasa.

Misalnya :

bangsa Indonesia

suku Sunda

bahasaInggris

8) Digunakan sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari, hari raya, dan peristiwa sejarah.

Misalnya :

tahun Hijriyah hari Jumat

bulan Desember hari Lebaran

Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

9) Digunakan sebagai huruf pertama nama geografi unsur nama diri.

Misalnya :

Laut Jawa Jazirah Arab

Asia Tenggara Tanjung Harapan

10) Digunakan sebagai huruf pertama semua unsur nama negara, lembaga pemerintah, ketatanegaraan, dan nama dokumen resmi, kecuali terdapat kata penghubung.

Misalnya :

Republik Indonesia

Majelis Permusyawaratan Rakyat

11) Digunakan sebagai huruf pertama penunjuk kekerabatan atau sapaan dan pengacuan.

Misalnya :

Surat Saudara sudah saya terima.

Mereka pergi ke rumah Pak Lurah.

12) Digunakan sebagai huruf pertama kata ganti Anda.

Misalnya :

Surat Anda telah saya balas.

Sudahkah Anda sholat?

13) Digunakan sebagai huruf pertama unsur singkatan nama gelar, pangkat dan sapaan.

Misalnya :

Dr. doktor

S.H. sarjana hukum

14) Digunakan sebagai huruf pertama setiap unsur bentuk ulang sempurna yang terdapat pada nama badan lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, serta dokumen resmi.

Misalnya:

Perserikatan Bangsa-Bangsa

Undang-Undang Dasar Republik Indonesia.

15) Digunakan sebagai huruf pertama semua kata di dalam judul, majalah, surat kabar, dan karangan ilmiah lainnya, kecuali kata depan dan kata penghubung.

Misalnya :

Bacalah majalah Bahasa dan Sastra.

Ia menyelesaikan makalah “Asas-Asas Hukum Perdata”.

b. Penulisan Huruf Miring

Huruf miring digunakan untuk :

1) Menuliskan nama buku, majalah, dan surat kabar yang dikutip dalam tulisan.

Misalnya :

Buku Negarakertagama karangan Prapanca.

Majalah Suara Hidayatullah sedang dibaca.

Surat kabar Pedoman Rakyat akan dibeli.

2) Menegaskan dan mengkhususkan huruf, bagian kata, kata, dan kelompok kata.

Misalnya :

Huruf pertama kata abad adalah a.

Dia bukan menipu, tetapi ditipu.

Buatlah kalimat dengan kata lapang dada.

3) Menuliskan kata nama ilmiah atau ungkapan asing.

Misalnya :

Politik devideet et impera pernah merajalela di Indonesia.

3) Penulisan Kata

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penulisan kata, yaitu :

Kata Dasar

Kata dasar adalah kata yang belum mengalami perubahan bentuk, yang ditulis sebagai suatu kesatuan.

Misalnya : Dia teman baik saya.

Kata Turunan (Kata berimbuhan)

Kaidah yang harus diikuti dalam penulisan kata turunan, yaitu :

Imbuhan semuanya ditulis serangkai dengan kata dasarnya.

Misalnya : membaca, ketertiban, terdengar dan memasak.

Awalan dan akhrian ditulis serangkai dengan kata yang langsung mengikuti atau mendahuluinya jika bentuk dasarnya berupa gabungan kata.

Misalnya : bertepuk tangan, sebar luaskan.

Jika bentuk dasarnya berupa gabungan kata dan sekaligus mendapat awalan dan akhiran, kata itu ditulis serangkai.

Misalnya : menandatangani, keanekaragaman.

Jika salah satu unsur gabungan kata hanya dipakai dalam kombinasi, gabungan kata itu ditulis serangkai.

Misalnya : antarkota, mahaadil, subseksi, prakata.

Kata Ulang

Kata ulang ditulis secara lengkap dengan menggunakan tanda (-). Jenis-jenis kata ulang yaitu :

Dwipurwa yaitu pengulangan suku kata awal.

Misalnya : laki lelaki

Dwilingga yaitu pengulangan utuh atau secara keseluruhan.

Misalny : rumah rumah-rumah

Dwilingga salin suara yaitu pengulangan variasi fonem.

Misalnya : sayur sayur-mayur

Pengulangan berimbuhan yaitu pengulangan yang mendapat imbuhan.

Misalnya : main bermain-main

Gabungan Kata

Gabungan kata lazim disebut kata majemuk, termasuk istilah khusus. Bagian-bagiannya pada umumnya ditulis terpisah.

Misalnya : mata kuliha, orang tua.

Gabungan kata, termasuk istilah khusus yang menimbulkan kemungkinan salah baca saat diberi tanda hubung untuk menegaskan pertalian di antara unsur bersangkutan.

Misalnya : ibu-bapak, pandang-dengar.

Gabugan kata yang sudah dianggap sebgai satu kata ditulis serangkai.

Misalnya : daripada, sekaligus, bagaimana, barangkali.

Kata Ganti (ku, mu, nya, kau)

Kata ganti ku dan kau ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Sedangkan kata ganti ku, mu, nya ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.

Misalnya : kubaca, kaupinjam, bukuku, tasmu, sepatunya.

2. Kata Depan (di, ke, dari)

Kata depan di, ke, dan dari ditulis terpisah dengan kata yang mengikutinya, kecuali pada gabungan kata yang dianggap padu sebagai satu kata, seperti kepada dan daripada.

Misalnya : Jangan bermian di jalan

Saya pergi ke kampung halaman.

Dewi baru pulang dari kampus.

Kata Sandang (si dan sang)

Kata si dan sang ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya.

Misalnya : Nama si pengrimi surat tidak jelas.

Anjing bermusuhan dengan sang kucing.

Partikel

Partikel merupakan kata tugas yang mempunyai bentuk yang khusus, yaitu sangat ringkas atau kecil dengan mempunyai fungsi-fungsi tertentu. Kaidah penulisan partikel sebagai berikut :

Partikel –lah, -kah, dan –tah ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.

Misalnya : Bacalah buku itu baik-baik!

Apakah yang dipelajari minggu lalu?

Apatah gerangan salahku?

Partikel pun ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya kecuali yang dianggap sudah menyatu.

Misalnya : Jika ayah pergi, ibu pun ikut pergi.

Partikel per yang berarti memulai, dari dan setiap. Partikel per ditulis terpisah dengan bagian-bagian kalimat yang mendampinginya.

Misalnya : Rapor siswa dilihat per semester.

Singkatan dan Akronim

Singkatan adalah nama bentuk yang dipendekkan yang terdiri atas satu kata atau lebih.

Misalnya : dll = dan lain-lain

yth = yang terhormat

Akronim adalah singkatan yang berupa gabungan huruf awal, gabungan suku kata, ataupun gabungan huruf dan suku kata dari deret kata yang diperlakukan sebagai kata.

Misalnya : SIM = Surat Izin Mengemudi

IKIP = Institut Keguruan dan Ilmu pendidikan

Angka dan Lambang Bilangan

Dalam bahasa Indonesia ada dua macam angka yang lazim digunakan , yaitu : (1) Angka Arab : 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, dan (2) Angka Romawi : I, II, III, IV, V, VI, VII, VIII, IX, X.

Lambang bilangan dengan huruf dilakukan sebagai berikut :

1) Bilangan utuh. Misalnya : 15 lima belas

2) Bilangan pecahan. Misalnya : 3/4 tiga perempat

3) Bilangan tingakt. Misalnya : Abad II

Abad ke-2

4) Kata bilagan yang mendapat akhiran –an.

Misalnya : tahun 50-an lima puluhan

5) Angka yang mneyatakan bilagnan bulat yang besar dapat dieja sebagian supaya mudah dibaca.

Misalnya : Sekolah itu baru mendapat bantuan 210 juta rupiah.

6) Lambang bilangan letaknya pada awal kalimat ditulis dengan huruf. Kalau perlu diupayakan supaya tidak diletakkan di awal kalimat dengan mengubah struktur kalimatnya dan maknanya sama.

Misalnya : Dua puluh lima siswa SMA tidak lulus. (benar)

55 siswa SMA 1 tidak lulus. (salah)

7) Lambang bilangan yang dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata ditulis dengan huruf, kecuali beberapa dipakai secara berurutan seperti dalam perincian atau pemaparan.

Misalnya : Amir menonton pertunjukan itu selama dua kali.

4) Penulisan Unsur Serapan

Dalam hal penulisan unsur serapan dalam bahasa Indonesia, sebagian ahli bahasa Indonesia menganggap belum stabil dan konsisten. Dikatakan demikian karena pemakai bahasa Indonesia sering begitu saja menyerap unsur asing tanpa memperhatikan aturan, situasi, dan kondisi yang ada. Pemakai bahasa seenaknya menggunakan kata asing tanpa memproses sesuai dengan aturan yang telah diterapkan.

Penyerapan unsur asing dalam pemakaian bahasa indonesia dibenarkan, sepanjang : (a) konsep yang terdapat dalam unsur asing itu tidak ada dalam bahasa Indonesia, dan (b) unsur asing itu merupakan istilah teknis sehingga tidak ada yang layak mewakili dalam bahasa Indonesia, akhirnya dibenarkan, diterima, atau dipakai dalam bahasa Indonesia. sebaliknya apabila dalam bahasa Indonesia sudah ada unsur yang mewakili konsep tersebut, maka penyerapan unsur asing itu tidak perlu diterima.

Menerima unsur asing dalam perbendaharaan bahasa Indonesia bukan berarti bahasa Indonesia ketinggalan atau miskin kosakata. Penyerapan unsur serapan asing merupakan hal yang biasa, dianggap sebagai suatu variasi dalam penggunaan bahasa Indonesia. Hal itu terjadi karena setiap bahasa mendukung kebudayaan pemakainya. Sedangkan kebudayaan setiap penutur bahasa berbeda-beda anatar satu dengan yang lain. Maka dalam hal ini dapat terjadi saling mempengaruhi yang biasa disebut akulturasi. Sebagai contoh dalam masyarakat penutur bahasa Indonesia tidak mengenal konsep “radio” dan “televisi”, maka diseraplah dari bahasa asing (Inggris). Begitu pula sebaliknya, di Inggris tidak mengenal adanya konsep “bambu” dan “sarung”, maka mereka menyerap bahasa Indonesia itu dalam bahasa Inggris.

Berdasarkan taraf integritasnya, unsur serapan dalam bahasa Indonesia dikelompokkan dua bagian, yaitu :

Secara adopsi, yaitu apabila unsur asing itu diserap sepenuhnya secara utuh, baik tulisan maupun ucapan, tidak mengalami perubahan. Contoh yang tergolong secara adopsi, yaitu : editor, civitas academica, de facto, bridge.
Secara adaptasi, yaitu apabila unsur asing itu sudah disesuaikan ke dlaam kaidah bahasa Indonesia, baik pengucapannya maupun penulisannya. Salah satu contoh yang tergolong secara adaptasi, yaitu : ekspor, material, sistem, atlet, manajemen, koordinasi, fungsi.

5) Pemakaian Tanda Baca

Tanda Titik (.)

Penulisan tanda titik di pakai pada :

Akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan
Akhir singkatan nama orang.
Akhir singkatan gelar, jabatan, pangkat, dan sapaan.
Singkatan atau ungkapan yang sudah sangat umum.Bila singkatan itu terdiri atas tiga hurus atau lebih dipakai satu tanda titik saja.
Dipakai untuk memisahkan bilangan atau kelipatannya.
Memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkan waktu.
Dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan, ikhtisar, atau daftar.
Tidak dipakai pada akhir judulyang merupakan kepala karangan atau ilustrasi dan tabel.

Tanda koma (,)

Kaidah penggunaan tanda koma (,) digunakan :

Antara unsur-unsur dalam suatu perincian atau pembilangan.
Memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara berikutnya yang didahului oleh kata tetapi atau melainkan.
Memisahkan anak kalimat atau induk kalimat jika anak kalimat itu mendahului induk kalimatnya.
Digunakan dibelakang kata atau ungkapan penghubung antarkalimat yang terdapat pada awal kalimat. Termasuk kata : (1) Oleh karena itu, (2) Jadi, (3) lagi pula, (4) meskipun begitu, dan (5) akan tetapi.
Digunakan untuk memisahkan kata seperti : o, ya, wah, aduh, dan kasihan.
Memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat.
Dipakai diantara : (1) nama dan alamat, (2) bagina-bagian alamat, (3) tempat dan tanggal, (4) nama dan tempat yang ditulis secara berurutan.
Dipakai di muka angka persepuluhan atau di antara rupiah dan sen yang dinyatakan dengan angka.
Dipakai antara nama orang dan gelar akademik yang mengikutinya untuk membedakannya dari singkatan nama diri, keluarga, atau marga.
Menghindari terjadinya salah baca di belakang keterangan yang terdapat pada awal kalimat.
Dipakai di antara bagian nama yang dibalik susunannya dalam daftar pustaka.
Dipakai untuk mengapit keterangan tambahan yang sifatnya tidak membatasi.
Tidak dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain yang mengiringinya dalam kalimat jika petikan langsung itu berakhir dengan tanda tanya atau seru.

Tanda Titik Tanya ( ? )

Tanda tanya dipakai pada :

Akhir kalimat tanya.
Dipakai di dalam tanda kurung untuk menyatakan bagian kalimat yang diragukan atau kurang dapat dibuktikan kebenarannya.

Tanda Seru ( ! )

Tanda seru dugunakan sesudah ungkapan atau pertanyaan yang berupa seruan atau perintah yang menggambarkan kseungguhan, ketidakpercayaan, dan rasa emosi yang kuat.

Tanda Titik Koma ( ; )

Tanda titik koma dipakai :

Memisahkan bagian-bagian kalimat yang sejenis dan setara.
Memisahkan kalimat yang setara dalam kalimat majemuk sebagai pengganti kata penghubung.

Tanda Titik Dua ( : )

Tanda titik dua dipakai :

Sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan pemberian.
Pada akhir suatu pertanyaan lengkap bila diikuti rangkaian atau pemerian.
Di dalam teks drama sesudah kata yang menunjukkan pelaku dalam percakapan .
Di antara jilid atau nomor dan halaman.
Di antara bab dan ayat dalam kitab suci.
Di antara judul dan anak judul suatu karangan.
Tidak dipakai apabila rangkaian atau pemerian itu merupakan pelengkap yang mengakhiri pernyataan.

Tanda Elipsis (…)

Tanda ini menggambarkan kalimat-kalimat yang terputus-putus dan menunjukkan bahwa dalam suatu petikan ada bagian yang dibuang. Jika yang dibuang itu di akhir kalimat, maka dipakai empat titik dengan titik terakhir diberi jarak atau loncatan.

Tanda Garis Miring ( / )

Tanda garis miring ( / ) di pakai :

Dalam penomoran kode surat.
Sebagai pengganti kata dan,atau, per, atau nomor alamat.

Tanda Penyingkat atau Apostrof ( ‘)

Tanda penyingkat menunjukkan penghilangan sebagian huruf.

Tanda Petik Tunggal ( ‘…’ )

Tanda petik tunggal dipakai :

Mengapit petikan yang tersusun di dalam petikan lain.
Mengapit terjemahan atau penjelasan kata atau ungkapan asing.

Tanda Petik ( “…” )

Tanda petik dipakai :

Mengapit kata atau bagian kalimat yang mempunyai arti khusus, kiasan atau yang belum dikenal.
Mengapit judul karangan, sajak, dan bab buku, apabila dipakai dalam kalimat.
Mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan, naskah, atau bahan tertulis lain.



BAB III

PENUTUP

A. Simpulan

1. Pengertian EYD

Ejaan yang disempurnakan adalah ejaan bahasa indonesia yang berlaku sejak tahun 1972. Ejaan ini menggantikan ejaan sebelumnya, Ejaan Republik atau Ejaan Soewandi. Ejaan adalah seperangkat aturan tentang cara menuliskan bahasa dengan menggunakan huruf, kata, dan tanda baca sebagai sarananya. Batasan tersebut menunjukan pengertian kata ejaan berbeda dengan kata mengeja.

Mengeja adalah kegiatan melafalkan huruf, suku kata, atau kata; sedangkan ejaan adalah suatu sistem aturan yang jauh lebih luasdari sekedar masalah pelafalan. Ejaan mengatur keseluruhan cara menuliskan bahasa.

2. Sejarah Ejaan Bahasa Indonesia

Berdasarkan sejarah perkembangan ejaan, sudah tiga kali mengalami perubahan sistem ejaan, yaitu :

a) Ejaan Van Ophuysen

Ejaan ini mulai berlaku sejak bahasa Indonesia lahir dalam awal tahun dua puluhan. Ejaan ini merupakan warisan dari bahasa Melayu yang menjadi dasar bahasa Indonesia.

b) Ejaan Suwandi

Setelah ejaan Van Ophuysen diberlakukan, maka muncul ejaan yang menggantikan, yaitu ejaan Suwandi. Ejaan ini berlaku mulai tahu 1947-1972.

c) Ejaan Yang Disempurnakan (EYD)

Ejaan ini mulai berlaku sejak tahun 1972 sampai sekarang. Ejaan ini merupakan penyempurnaan dari seluruh ejaan sebelumnya yang pernah berlaku di Indonesia.

PERUBAHAN PEMAKAIAN HURUF

DALAM TIGA EJAAN BAHASA INDONESIA

Ejaan yang Disempurnakan (EYD)

(mulai 16 Agustus 1972)


Ejaan Republik

(Ejaan Soewandi)

1947-1972


Ejaan Ophuysen

(1901-1947)

Khusu

Jumat

Yakni


Chusus

Djum’at

Jakni


Choesoes

Djoem’at

Ja’ni

3. Ruang Lingkup Ejaan Yang Disempurnakan (EYD)

a) Pemakaian Kata

b) Penulisan Huruf

c) Penulisan Kata

d) Penulisan Unsur Serapan

e) Penulisan Tanda Baca